Langit terlihat mempesona, senja ke-ungu-unguan. Aku masih berjalan menapakan kaki di trotoar jalan, menahan dingin nya malam yang hendak membasah. Suntuk mencari kerja seharian, aku pergi ke sebuah tempat minuman di kelokan gang buntu, tempat yang berasap – asap penuh dengan wanita berkosmetik, dan lipstick yang bertebaran di kerumunan orang – orang yang mungkin juga sudah merasa sia – sia hidup nya. Aku baru sadar betapa cantik nya wanita – wanita malam, yang aku tak tentu tahu benar asal – usul hidup nya malahan mungkin saja cantik wajah nya tak secantik kehidupannya. Langit – langit dipenuhi dengan terang bulan yang terpantulkan dari kaca perkantoran, tempat dimana aku dulu merasa lebih sia – sia dari sekarang, namun cahaya nya terlihat begitu indah sekarang. Bertemu dengan seorang teman lama, namanya Tira. Dia dulu adalah teman saat di kantor lembaga permasyarakatan seperti ku, sebelum aku dipecat karena aku terlalu peduli dan seisi kantor iri dengan ku, dan aku menghabiskan uang – uang ku untuk menyejahterakan mereka yang merasa tidak dipedulikan tapi sepertinya itulah peristiwa ada saat kita terpisahkan tanpa tahu sebab nya dan itulah saat nya kita untuk me-reka – reka sebuah peristiwa. “Bagaimana keadaan di sana sekarang? Semua masih berjalan tidak sewajar nya?” Tanya ku pada Tira. Aku bingung, kenapa dia tetap tahan kerja di tempat untuk membantu orang – orang tetapi seisi kantor nya tidak memperbolehkan kita menoleh peduli pada mereka. Dan Tira pun tak menjawab, dia hanya menganguk sambil meneguk segelas bir yang berembun. “Sepertinya, aku sudah harus bercerai.. keadaan ini seperti neraka, istri ku selingkuh sudah setahun ini dan aku hanya bisa diam, memberi contoh yang baik untuk tidak memperlihatkan pertengkaran di depan mata kedua anakku. Aku harus bagaimana? Perceraian dilarang di agama, namun ketika kita tak bisa berbuat apa – apa, dan keadaan semakin seperti neraka, aku hanya bisa diam berdoa menunggu dia berubah.., malahan aku hanya terdiam disini, setiap malam melihat dia nanti pulang diantar lelaki itu, lelaki yang mungkin jauh lebih mengerti dia. Tapi apa kamu tahu? Dia menguras uang ku, lelaki itu merusak semua nya. Uang ku, hasil kerja kuberikan pada istriku, dan istri ku meminjamkan uang pada lelaki itu. Garis tegas pada bola mata ku yang menyimpan seribu rahasia ini, hilang, kandas, dan aku tak berkutik. Mungkin saja mereka sudah pernah bercinta, sampai sekarang aku merasa jijik untuk bercinta dengan istri ku..” , sahut Tira dengan seluruh ocehan nya tentang masalah rumah tangga nya. Memang benar, disini tempat orang yang merasa sia – sia hidup nya, berpura – pura tertawa sengaja mabuk untuk melepas stressnya, mencium wanita – wanita lain, sampai lipstick nya melumer di kedua pipi nya yang merona. Suasana hati nya sangat sesak sekarang, sangat tidak memungkinkan untukku menanyakan apa ada lowongan kerja lain sekarang. Malahan sekarang aku dipaksakan untuk memberikan saran, padahal aku ini juga butuh saran dari seorang teman. Suasana klub semakin ramai, pria – pria mabuk mulai berdansa di kerumunan sambil berkenalan dengan wanita yang tidak diketahui asal – usul nya, mencium leher nya, berbisik – bisik di daun telinga nya, dan berkecupan bibir sampai basah seluruh bibirnya. “kamu sudah coba untuk bersikap tegas?, kamu datangi saja lelaki itu suruh dia pergi dari kehidupan keluarga mu, atau ancam saja kamu akan membunuh nya jika tidak segera pergi. Tapi ada kemungkinan, kemungkinan yang sangat besar ketika istri mu mulai merasa mencintai nya walau sakit selalu dihantar lelaki itu, istri mu akan selalu mencari nya seperti kena ilmu pellet pernah liat di televise kan?” ,jawab ku kepada Tira yang mungkin malah menggantung harapan dan perasaan nya semakin sakit. “istri ku sering menangis ketika lelaki itu tidak mengangkat telepon dari nya, istri ku sering marah pada nya ketika lelaku itu lebih memilih untuk bersama istrinya. Istri ku berubah – ubah perasaan nya, dan itu semakin memberikan luka yang berkelanjutan pada ku. sempat aku geram, dan berkata pada istriku untuk berubah, berubah dan berubah.. tapi seisi rumah ku, tak mendukung keadaan itu, anakku yang pertama membela istriku sambil menangis, yang kedua ikutan ketakutan di pojok dekat kulkas. Andai mereka sudah besar nanti, dan tahu bahwa aku tak bermaksud menyakiti perasaan mereka, aku hanya ingin keadaan rumah tangga ku kembali bersih, kembali seperti dulu lagi.” , jawab Tira yang sudah sangat putus asa, dan semakin merasa sia – sia atas kehidupannya. Aku tak bisa membayangkan jika aku ada di posisi nya, mungkin cerai adalah salah satu cara yang tidak baik, namun berujung baik pada batin yang mulai terasa gerah dan tersiksa. Namun tak ada yang bisa mengurungkan niat Tira, dia adalah lelaki yang sangat baik, pengertian, dan taat beragama, iman nya kuat, dan sangat penyabar. Dia pasti tak akan memilih untuk bercerai sekarang dan selamanya. Sekarang keadaan semakin tak mendukung ku yang pusing mencari pekerjaan. Lelaki yang bertanggung jawab seperti dia, pasti akan tahan menghadapi cobaan ini. Seorang wanita datang kepada ku, mengibaskan rambut nya yang beraroma sangat nikmat ini, dada nya begitu matang sudah bisa kutebak dia adalah wanita penggoda karena kosmetik nya yang begitu, yah begitu saja aku bisa tahu. Begitu saja, dia duduk melirik pada ku selalu tanpa menoleh sedikit pun. Dan dia pindah kepangkuan ku, dan aku menempatkannya wajah nya tepat di depan muka, dan kami berciuman begitu lama sampai tak sadar Tira sudah pergi. Aku dan wanita itu, tak pedulikan itu. Aku sedang bingung sekarang, dan aku mengajaknya ke toilet mungkin untuk melanjutkan ciuman ke tahap selanjutnya. Kami bercinta begitu nikmat disana, pakaian kami terlepas begitu saja, entah ketika aku ingin membayar nya dia tak mau aku anggap itu sebuah timbal balik dari peristiwa yang mencekam ini. Saat ku sedang mengenakan celana ku, dan mengencangkan sabuk ku.. DOR! Suara peluru yang tertembakkan terdengar keras sekali, saat ku beranjak berlari keluar kamar mandi bersama wanita itu, seorang pria yang tak kukenal tergeletak di tengah kerumunan orang yang memandangi nya, darah nya banyak sekali kepala nya hancur berkeping – keping. O betapa tega nya orang itu, merusak suasana indah ini. Batin ku berkata seperti itu. Dan ketika ku lihat, seorang wanita menangis oleh kematian itu, aku tahu wanita itu. Dia istri Tira, dan kutebak itu selingkuhannya. Aku berlari keluar bar, menuju gang buntu, kulihat laki – laki itu gelap sampai hanya kaki nya yang diterangi lampu putih dan penuh asap disana, Tira. Itu Tira. Dia telah bijaksana.
24 januari 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar