Ini diluar kemampuan ku saat menghadapi klien – klien di kantor ku. sekarang adalah waktu nya karena timbul harapan baru, setelah masa lalu yang retak memberontak menghancurkan semangat kehidupan ku. mungkin kekecewaan pasti akan selalu diterima oleh setiap orang, jika semua nya tidak terealisasikan dengan semestinya dan semestinya sekarang aku tidak mengalami kontradiksi dari kehidupan dari masa lalu ku. “Pak saya butuh modal, ingin buat usaha bengkel. Tempat nya strategis, tenaga kerja pun saya sudah punya tempat nya tidak jauh dari sini, bapak bisa saya antar melihat – lihat ke sana. Dekat pangkalan ojek depan jalan raya, di dekat bank sejahtera ada tepat di sebelah pangkalan taxi. Mungkin taxi atau motor yang rusak nanti, atau yang membutuhkan pembaharuan bisa dibenahi di bengkel kami. Oh iya pak, saya hampir lupa nanti saya ingin menamakan bengkel ini, Bengkel Luhur. Bagaimana pak?, boleh saya minta bantuan nya?.” kata seorang klien ku di tempat ku bekerja. Hari ini aku sedang tidak berani mengambil keputusan, jadi aku putuskan untuk melihat – lihat tempat sekitar sana mungkin sambil pergi minum kopi dengan Pak Dewo klien ku ini. “Mari pak, kita langsung saja ke sana tapi maaf pak saya boleh minta dituntun karena cacat permanen ini pak, saya harus naik kursi roda.” Kata ku, malu dalam batinku. Lalu kami berjalan menuruni kantor ke jalan raya menuju tempat tersebut. Di perjalanan, kami berbincang – bincang untuk merealisasikan yang dinamakan kerja sama antar klien jadi keadaan ini akan semakin membaik dan memberi ku peluang kenaikan jabatan. “maaf pak, boleh saya bertanya?”, Tanya Pak Dewo padaku. “oh silahkan saja pak, tanya apa saja boleh..” , susul aku menjawab. “bapak kenapa mengenakan kursi roda? , maaf pak agak menyinggung perasaan.” Tanya Pak Dewo padaku. Ternyata apa yang kutakutkan benar terjadi, sesuatu yang harus nya sudah terkunci dalam pintu beribu kunci harus kuberi tahu pada seseorang. Mungkin ini adalah tahap refleksi bagiku, dan aku tak berharap sedikit pun untuk mengulang masa lalu ku ataupun meminta saran dan bantuan padanya untuk menghadapi masa lalu ku. matahari bersinar sangat memerah hari ini, cerah membuat keringat pada kulit – kulit menjadi mengkilap sampai lah aku pada tempat tujuan. Aku tak kunjung menjawab, mungkin kali ini aku masih berpikir karena aku merasa belum siap untuk memberitahu nya. aku menarik napas panjang – panjang dan menghelakannya sambil memandang Pak Dewo dengan muka yang penuh dengan tanya, dan sekarang aku telah merasa siap untuk menjawab nya. “Jika kita berandai – andai. Bengkel ini adalah apa yang sangat berharga untuk anda, saya sepatut nya berjuang untuk apa yang ingin saya capai. Namun suatu saat, anda dengan seorang pelanggan anda berkelahi soal mesin, berdebat seperti lawan bicara yang hebat di tengah anda bekerja. Anda mencoba mengalah dengan memendam emosi itu di lubuk hati terkecil terpendam dan paling dalam. Dan bukan kesalahan anda sepenuh nya kecelakaan itu terjadi, terjadi begitu saja karena anda lengah sedikit satu titik anda meremehkan sesuatu, anda terjatuh pada perdebatan dan begitu saja kecelakaan terjadi pada saya waktu itu Pak, di mobil. Saya mempunyai seorang tunangan, seorang yang baik dan tentu nya saya mencintai nya lebih dari apapun, lebih dari mencintai Tuhan saya. Namun hubungan saya dengan nya tidak direstui karena dia hamil di luar nikah. Apakah anda tau bagaimana rasanya? Jika belum menikah namun tunangan anda sudah menikah di luar nikah karena kelengahan anda. Di hari itu… saya beserta orangtua dari tunangan saya sedang berdebat di tengah perjalanan panjang menuju tempat dimana kami akan menikah nanti. Disana kami akan mempersiapkan pernikahan dengan begitu matang, namun mereka terus saja mengoceh seperti berusaha mengalahkan karakter saya. Saya mencoba untuk diam, dan terima mereka apa adanya, aku tidak mengatakan apapun dan menginjak gas dengan kencang. Namun mereka terus saja, megoceh, melontarkan, mengulurkan kata – kata yang benar – benar membuat anda tidak berdaya. Saat itu.. pandangan saya begitu kosong, tak ada satu pun yang saya pikirkan, dan begitu saja saya tidak sadar terlihat pantulan cahaya sebuah mobil yang menyalakan lampu jarak jauh nya dan kecelakaan itu pun terjadi, mereka berdua sudah tidak mampu berbicara lagi. Kami kacau, keadaan mobil begitu tidak tertolong, aku mencoba untuk bergerak menolong semampu ku namun aku tak kuat dan tergeletak tak sadar berlumurkan darah. Saat ku terbangun dari nafas yang tertahan selama beberapa waktu, semua sudah terjadi begitu saja. Aku, selamat. Aku sama sekali tak bersyukur aku selamat, aku telah mengecewakan pihak keluarga nya. mereka, kedua calon mertua ku meninggal pada kecelakaan itu. Kaki ku patah dan tak bisa terobati, dan seperti nya aku merasa mampu untuk berjalan tapi aku tetap merasa kecewa dengan apa yang terjadi. Pernikahan kami dibatalkan, kami berdua berpisah. dia tidak bisa menerima keadaan ku yang seperti ini, tentu nya karena dia menganggap aku adalah seorang pembunuh. Jarum – jarum buah matahari yang terjatuh menyinari bumi ini seakan ingin membunuh ku perlahan di dalam kamar yang lebar. Aku terasingkan. Menulusuri semua kejadian yang menjadi rahasia dalam mata dan kulit – kulit ini, aku tak temukan satu harapan sampai aku mencoba untuk meninggalkan dunia ini. Namun sepertinya, kematian menjadi satu kunci yang sulit aku gapai. Jingga nya matahari pada musim panas menjadi teman satu – satu nya setelah kursi roda ku yang membantu ku berjalan perlahan. Aku semakin merepotkan banyak orang, ini semua salah ku..” tak kusadarkan aku sudah berkata banyak sekali pada Pak Dewo. Air mata terjatuh ke pipi dan jatuh ke jalan menjadi pelangi. Ketika itu aku mengerutkan jemari ku, mencoba mendekatkan diriku pada sebuah altar atau meja yang ada di sana. Aku tertunduk menahan duka ini, semua gagal sesuai pada rencana yang di buat oleh sang sutradara kehidupan. Sekarang aku berharap pada matahari yang bersinar, jangan dulu mencintai ku karena aku takut matahari pun akan ku khianati nanti nya. “sabar pak, Tuhan punya rencana. Dia maha pengampun, dan maha besar. Kembali lah pada nya..”. atas perkataan itu, aku pun mencoba untuk tersadar dan mungkin saja Tuhan mau mendengar. “pak antarkan saya kesana.., ya kesana..”. lalu lonceng gereja sudut jalan bergetar, Salib yang terbentang besar di atas terpaku di tembok – tembok seperti bercahaya. Sesungguh nya tangan ku hendak kembali bersandar pada bahu nya, bahu nya yang entah aku tak bisa gapai karena terduduk di kursi roda ini. Di antara selipan kaki – kaki Tuhan yang terpaku di salib itu, aku temukan harapan dari sebuah perpisahan. “Ya tuhan bimbing lah aku pada jalan mu, jangan lah masukan kami dalam percobaan..”. aku sekarang berjalan didorong dengan kursi roda oleh Pak Dewo, menuju rumpun hijau depan gereja.
“Pak, saya akan berikan modal ini.. terimakasih telah membuka jalan yang telah lama tertutup karena begitu gelap. Bimbinglah modal ini menjadi sebuah kuseksan besar, dan harapan besar untuk orang – orang disana. Banyak harapan yang ada pada roda ini, kursi roda ini pun selalu memberikan harapan. Gugur dan semi hanyalah sebuah antara, dan di antara itu pasti ada sebuah merah atau jingga yang akan memberikan kesempatan untuk jemari mu yang lentik meniti kehidupan..”
27 januari 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar