7 Sesap Buih Cinta
Malam muncul dari sela – sela daun, bulan tak menemani nya hari ini. Gelap gulita aku tergontai berjalan menuju pintu rumah kerabatku. Di kota yang penuh sesak ini, menjadi perjalanan aku mencari sebuah kehidupan. Menaiki anak – anak tangga, tubuhku begitu lelah hari ini. Seharian aku memberikan minuman – minuman untuk orang – orang kesepian di bar biru. Sekarang aku sampai tepat di depan pintu kamar nya, memegang ganggang pintu itu saja aku tak mampu. Tubuh ku terasa begitu lelah hari ini. Ku genggam ganggang nya dengan tangan kiri ku dengan menyenderkan bahu kiri ku untuk membuka nya. ah, akhir nya terbuka. Teman ku di kamar sedang sholat, entah mengapa iya selalu saja sholat berusaha berkomunikasi dengan sesuatu yang menciptakan ketidaksetaraan di muka bumi ini. Aku tahu dia begitu lelah jika aku terus tinggal di rumah nya. lagi pula jika dia tahu dimana berkerja, pasti aku kan bantai oleh teman – teman nya ormas nya. organisasi masyarakat, yang mengaku membela agama dan masyarakat, namun bersikap begitu radikal. Dan seperti malah mengekang kebebasan dari hak – hak massa itu sendiri. Namanya Ahmad, aku bertemu di halte kereta api di pasar senen. Saat itu aku tak ada tujuan, dan seperti nya memang takdir aku dipertemukan oleh nya. dia menawarkan tempat tinggal gratis, aku sebenarnya tidak enak untuk menerima nya. tapi jika aku menolak nya, mungkin tak ada tempat tinggal lagi untuk orang seperti ku. sempat kami berbincang tentang tujuan ke kota Jakarta ini, dia berkata pada ku bahwa dia kesini untuk mencari ilmu agama. Lingkungan sekitar tempat tinggal nya memang di penuhi dengan orang – orang yang ber-peci putih. Banyak orang – orang timur di sana. Kegiataan keagamaan nya pun sangat sering. Hanyalah aku seorang yang tidak pernah mengikuti kegiatan keagamaan kecuali sholat pada hari jumat. “malam mad, capek banget nih gue. Sorry ya ganggu sholat lo, gue tidur duluan yah.” Kata ku pada Ahmad, yang menoleh saat selesai sholat. Kata Ahmad pada ku, “kapan kamu mau dapet tempat tinggal, kalo gak pernah sholat. Ingat jangan lupa berdoa sama Allah.” Kata – kata nya itu, hanya sempat masuk ke telinga ku beberapa detik lalu keluar lagi, mengalir seperti alur sungai.
Matahari telah datang, begitu cerah panas teriknya menembus pori – pori kulit ku. terdengar dari luar, aktifitas kota yang begitu gemuruh. Anak – anak berangkat sekolah, ibu – ibu tawar menawar dengan bapak penjual sayur yang mulai stress menanggapi tawaran – tawaran dari ibu – ibu. “cabai berapa?” tanya salah satu ibu – ibu. “7 ribu sekilo bu, harga pada naik” , jawab bapak penjual sayur. Aku tertawa cekikik melihat nya dari jendela kamar tingkat 2, lalu beranjak membalikan tubuh mencari Ahmad. Menuruni anak tangga menuju dapur, aku membuat kopi. Mungkin segelas kopi akan membuat semangat ku kembali untuk mencari tempat tinggal hari ini. Ku dengar sedemikan rupa, Ahmad sedang berkumpul dengan teman – temannya. seperti nya sedang mengaji aku tak tahu betul. Lagi pula selama ini, sholat jumat juga aku Cuma ikut – ikut saja. Berlagak tahu agama, padahal tidak sama sekali. Aku meneguk semangat pagi di dalam cangkir kopi, sesap buih – buih biji nya menjadi putih seputih semangat kejujuran. Menyulut sebatang Djarum Super, dan berjalan ke depan rumah untuk membaca Koran. Siapa tahu ada lowongan kerja, atau saja ada tawaran kost – kostan murah. Lebih baik lagi jika aku dapan yang di sekitar kota. Terdengar dari ujung jalan raya, suara bus – bus kota yang hiruk pikuk, dan langkah – langkah kaki orang – orang berjam tangan yang sangat tahu waktu walau kadang juga waktu menelannya dalam keterlambatan absen menuju kantor. Gadis – gadis dengan rambut menutupi payudara dengan kemeja putih sekolah nya, dengan rok abu – abu yang mengingatkan ku pada masa SMA ku dulu. Jadi ingat dengan masa percintaan SMA ku, ketika aku berbicara tentang cinta “aku mencintai mu, maukah kamu jadi pacar ku? , kamu terlihat begitu cantik ketika mengenakan pakaian itu” atau kata – kata lain yang bisa meluluhkan hati gadis – gadis SMA pada saat itu. Cekikik lagi aku, tersenyum sambil membaca Koran, sampai tak sadar kan cangkir kopi ku tinggal berisi ampas nya. ini hisapan terakhir ku, hari ini Koran sama sekali tak bermutu, isi nya ya pembunuhan, artis yang selinkuh, pejabat yang korupsi, ketidak tegasan pemerintah dalam menangani lumpur lapindo, atau yang paling mencekam adalah seorang pelacur yang dibunuh organisasi masyarakat di kampong. Hari ini menggelisahkan ku, apakah ormas sekeji itu? Aku tak tahu, aku mencoba tidak peduli dengan semua itu. Aku berjalan masuk kembali ke dalam rumah, untuk segera mandi pagi mencari kost – kost an. Mengembali kan cangkir bekas kopi kan, dan mencuci nya. setelah semua itu selesai, aku menyegarkan diri untuk mandi. Mengusap tubuh ku dengan sabun yang bercucur air dari lubang – lubang shower. Sangat terasa menyegarkan ketika butiran – butiran air itu mengucur deras menghapus sisa – sisa sabun yang menempel di tubuh ku. ku buka pintu kamar mandi dan berjalan menuju anak tangga, dan menapaki nya sampai akhir aku mencapai kamar tidur. Ku ambil jeans lois biru tua ku yang kubeli murah di obral pasar senen, ku kenakan kemeja polo shirt hitam ku, dan kupakai kaca mata ku yang membantu pengelihatan ku. siapakah aku yang berkaca sekarang, begitu tampan namun tidak laku, kasihan. Sedikit humor untuk meyakinkan ku, bahwa masih ada waktu untuk mencari kekasih idaman ku. pagi ini matahari begitu cerah, sesampai nya aku di jalan raya aku menaiki bus kota yang sudah sedikit ramai. Tak dapat aku tempat duduk,akhir nya aku berdiri berdesakan dengan orang – orang. Menempel tangan dari seorang laki – laki itu dengan tangan ku, keringat nya bergabung dengan pori – pori kulit ku. lalu kulihat di ujung sana, wanita spg sedang berkaca rias, menyolekan diri nya, memakai lipstick merah tua yang terlihat begitu tebal. Rambut nya terurai panjang, mengenakan rok berwarna coklat di atas lutut. Memakai kemeja putih, yang membuat likukan dada nya terlihat begitu menawan di pagi yang cerah itu. Mata ku tus memandangi dada nya yang menatap pada ku, terlihat begitu menggoda karena begitu seperti buah mangga yang manis harum nya menusuk hidung ku dan memancing mata ku untuk terus menatap kearah situ. lalu aku turun di persimpangan jalan, ada plang yang menunjukan kost kosong 1 kamar terakhir. Aku begitu tertarik dengan tulisannya, kebetulan ini tidak terlalu jauh dengan tempat kerja ku, tinggal naik 1 bus lagi juga sampai. Dan aku masih saja berjalan sampai terlihat Kost Ibu Rahma di ujung sana setelah belokan pertama. Kost nya besar, tapi aku tidak melihat satu pun laki – laki di sana, aku hanya melihat 1 gadis cantik seperti nya seumuran ku. Lalu aku beranjak mendekati nya, “hey gue Agus, bener ini kost Ibu Rahma?” tanya ku pada nya. “Bener, lu mau ngapain?” tanya nya dengan rambut sependek leher dan terlihat begitu cantik dengan mata nya yang indah, dan badan nya yang mungil. “enggak., gua mau ngomong sama Ibu Rahma ada?” , tanya ku balik pada nya. “oh iya, sebentar yah gue panggil dulu.” Jawab dia dengan nada yang menggemaskan. Oh tatapannya membuat ku jatuh cinta pada nya. lingkar dada nya tidak begitu besar, namun badan mungil nya membuat hati ku gemas untuk memeluk nya. akhir nya aku mendapat persetujuan setelah bernegosiasi panjang lebar dengan Ibu Rahma, dapat lah aku tempat tinggal baru dengan 7 wanita yang tinggal disana, dan aku hanyalah satu nya sang Jaka yang beruntung tinggal di sana. Oh Tuhan begitu mengerti, memberi ku anugerah tempat yang di penuhi 7 bidadari. Jadi ingat cerita Jaka Tarub, yang mencuri selendang salah satu dari tujuh bidadari. Dan aku sampai sekarang belum tahu nama gadis itu tadi.
Malam tiba lagi, muncul di antara gang – gang kosong, dan rembulan tetap tidak setia untuk menemani. Hanya terang bintang yang menjadi sahabat nya malam ini. Aku berjalan kembali menuju Bar Biru, ketika malam mulai menelan matahari pagi hari tadi yang bersinar cerah sekali. Dan ketika aku sampai di Bar Biru, ku lihat gadis itu. Gadis yang tadi bertemu di Kost Ibu Rahma.
1.Segelas Bir, Andini.
Merenggut setiap malam yang berbinar melewati gelas – gelas bir yang sesap nya berbuih habis tak menguning lagi, di antara gelas – gelas dan botol yang berisikan minuman keras tersinar lah sebuah kenangan. Gadis tadi sedang duduk sendiri, meneguk setiap gelas bir yang ada. Kuterka dia sedang menunggu temannya, tapi sudah dari 3 jam lalu aku baru tersadar, tak kunjung juga ada yang menghampiri nya. naluri ku berkata bahwa aku harus menemaninya, sekedar mungkin menghibur nya dari kenangan buruk. “mas pesan Martini ya” , pesanan seorang pengunjung laki – laki yang mukanya sedang gembira sekali. Ku berikan segelas kecil Martini, “ini mas minumannya, ada pesanan lain?” jawab ku pada nya. orang itu meminum nya dengan sekali tegukan habis, lalu beranjak dari bar lalu berjalan menunju lantai dansa, dimana bola lampu bersinar binary menerangi lantai dansa. Hari ini wanita – wanita yang datang begitu indah sekali, ku lihat di ujung timur pasangan lesbi sedang bercumbu asik, beradu lidah antar lidah, sampai sekitar bibir nya mulai basah. Dan kulihat lagi ke arah gadis siang tadi, dia masih saja duduk sendiri, meneguk gelas ke-8. Aku berjalan menuju nya, berpesan pada teman ku untuk menemui teman lama, dan ingin mengajak nya berbincang – bincang.
“hei,. Sendiri aja lu?” , sapa ku hangat pada nya dengan sedikit senyuman dingin sekedar untuk meninggikan martabat ku. “gue kerja di Bar Biru udah lama, baru kali ini gue lihat lu main disini. Kebetulan banget nih ketemu, oh iya gue Agus siapa tau lu lupa. Nama lu siapa?” kata ku pada gadis itu. Sungguh ku kira pertemuan ini akan seperti di layar lebar, ketika seorang gadis mengalami masalah dan bertemu dengan laki – laki yang tidak dikenal nya, lalu memeluk dan mendekap nya sambil menangis. “untuk apa lu kesini, gue butuh sendiri sekarang, gue pesen satu botol bir lagi ya”, jawab nya pada ku. “oke tuan putri” ,jawab ku dengan nada sedikit menggoda. Kubawakan sebotol bir yang hijau warna nya, berisi penuh dan buih – buih dari lemari es nya masih menempel di botol nya. “nih minumannya, lo udah lama nge kost di kost Bu Rahma?” tanya ku pada nya. “iya, emang kenapa? Lu mau nge-kost di sana ya? Itu kan kost cewe semua.” Jawab nya pada ku.
“ya, gue tuh tinggal di tempat yang isinya orang – orang taat beragama semua, dari pada gue di cekal di sana, untung ketemu plang nya Ibu Rahma gue jadi dapet tempat tinggal deh.” Jawab ku pada nya.
“oh gitu, eh iya nama gue Andini anak fakultas seni fotografi. Lu gak kuliah?” jawab nya.
“gak, gue sebenarnya kuliah, dulu tapi. Ya, begitulah biasa klise banget. Gak punya uang, ya kerja aja sekalian, gue ngerti jadi bartender. Gue lamar aja kerja di sini. Lumayan penghasilannya.” ,kata ku pada nya.
“eh iya, besok gue libur kerja. Jalan – jalan yuk. Sekalian lah temen kost baru..” canda ku pada nya.
“boleh, gue juga lagi jenuh banget nih. Besok kita cerita – cerita ya..” , jawab nya pada ku dengan nada tadi pagi yang sangat menggemas kan.
Begitu saja, kami berdua berkenalan. Ku hantar dia pulang ke kost Bu Rahma. Hujan datang menyerang, kami berdua meneduh di halte bus kota. Sambil menunggu bus, yang mungkin sudah selarut ini tak akan datang. Sudah ku ajak dia naik taksi, tapi dia tak mau. Kerap kurasakan pada malam yang agak menegangkan ini, hasrat ku bergejolak penuh. sayup mata pada badan mungil itu, yang berkedip membuat bulan ingin kembali menyinari. Andini, masih saja terus menggosokan kedua tangannya yang mungil kepada kedua bahu nya yang mungil, diusap nya rintik hujan yang menjatuhi dahi nya. dan aku hanya terdiam terpesona melihat nya.
“Dingin din?”, tanya ku pada nya sambil menawarkan jaket ku pada nya.
“ih, klise banget sih lo. Kebanyakan nonton film sih lo.” Jawab nya mengejek, dan kami kembali tertawa terkikik – kikik kecil. Tapi tak ada penolakan disana, tetap saja dia menjawab tawaran ku, dengan mengenakan jaket jeans ku yang sedikit kotor dan basah.
“lu mau rokok gak?”, tawar ku pada nya sambil menyulut sebatang Djarum Super.
“boleh deh, tapi selera lu cowo banget.. dari pada gak ada, gue minta satu ya.” , jawab nya sambil mengambil satu batang rokok dari bungkus Djarum Super ku.
Asap rokok begitu tebal, menutupi pandangan kami sendiri. Lampu – lampu jalan membuat asap terlihat begitu indah mengebul melayang – layang. Angin meniup asap nya dan sekejap membuat asap itu menghilang. Hanya lampu – lampu merkuri yang memantul di antara becek nya jalan yang menggenang. Bibir nya yang mungil menghisap batang rokok itu begitu menggemaskan, membuat kami berdua berbaur begitu akrab dengan malam dan asap – asap yang mengebul di antara lampu – lampu merkuri. Hanya 1 atau 2 mobil saja yang melewati jalan itu, dan hujan belum kunjung terhenti deras nya. seberkas cahaya – cahaya lampu melewati malam, dan pembicaraan kami kembali tambah mendalam, meyelam sampai ke titik intensif. Meluncur seperti penyelam yang mencari pemandangan bawah laut. Melejit seperti pesawat terbang yang menembus awan di langit.
“cowo lo mana? Gue liat tadi lo nunggu seseorang ya?, gue perhatiin dari tadi 3 jam lebih lo duduk disana, cuman main – main handphone, terus minum bir terus.” Tanya ku pada nya.
“iya nih Gus, gue juga bingung. Kayak nya dia selingkuh deh, dia banyak banget janji sama gue. Tadi dia ajak gue ketemu di Bar Biru, tapi gak datang juga. Gue sampai ‘bete’ nunggu nya.” jawab nya pada ku.
“emang nya, dia gak nelfon lo atau jelasin tadi dia kemana?” , tanya ku lagi pada Adinda.
“gak Gus, dari tadi gue telfonin tapi gak di angkat, di SMS gak di bales. Gue juga bingung mau nya dia apa. Kemarin lusa itu, dia ke-gep selingkuh sama temen gue sendiri Gus. Sebel banget deh gue, kenapa udah 2 tahun gue sama dia pacaran. Dia selingkuh dan gak pernah jujur. Sama temen gue pula, apa cowo emang suka main cewe semua ya?” , jawab nya pada nya.
“kasian lo ya.”, ku jawab sambil tertunduk. Tak tahu untuk menjawab pertanyaan apakah setiap laki – laki memang suka mempermainkan perasaan wanita. Aku sendiri mungkin adalah lelaki yang sama seperti pacar nya. komitmen memang sangat susah dibulat kan. Jadi aku mengurungkan niat ku untuk berbohong pada nya bahwa tidak semua lelaki seperti itu. Dan sekarang hujan mulai terhenti, tinggal rintik – rintik gerimis nya saja yang menjatuhi lantai jalan raya. Dan malam sudah semakin dingin, aku rasakan menembus kulit – kulit ku yang sedikit basah.
“Din, hujan nya udah reda nih. Jalan kaki aja yuk..” , ajak ku pada Andini untuk segera melanjutkan perjalanan pulang. Kubuang rokok yang sudah hampir mencapai kapas nya. lalu berjalan bersama nya, dengan kaki yang letih. Entah mengapa, aku ingin melindungi nya di saat yang begitu dibutuhkan oleh nya. dan dengan naluri lelaki yang ingin melindungi wanita cantik seperti Andini, aku memegang tangannya yang mungil. Sejenak aku berpikir dia akan menolak dan marah, tapi ternyata dia tersenyum menatap ku. dan kami kembali berjalan. Kami seperti dipertemukan oleh sebotol bir tadi di Bar Biru. Dan sampai lah kami di Kost Bu Rahma yang sudah sepi keadaanya. Ku ucapkan salam perpisahan pada nya, dan dia membalas senyum ku. sebenarnya belum puas aku merasakan tangannya yang mungil di antara jemari ku yang besar. Belum puas aku bertemu dan melihat senyum nya yang menggemaskan, namun hari semakin malam, dan esok hari aku pasti akan bertemu denganya lagi.
“Ini Gus, jaket lu. Nanti lo sakit, thank you ya Gus lo udah temenin gua.” Kata Andini pada ku, sambil memegang tangan ku dengan hangat, dan kehangatan itu mengalir sampai ke leher ku, dan bulu – bulu ku meneggang. Aku memutar balik tubuh, dan terseyum seakan baru saja aku mendapat kesenangan yang melebihi dari kesenangan mendapat gaji lebih dari si Bos. Berjalan aku menuju depan jalan raya, menunggu taksi datang dan aku pulang.
Rumah Ahmad sudah terkunci, tidak sopan jika aku mengetuk nya. bisa – bisa tetangga bisa terbangun dan menganggap ku lelaki ‘aut – autan’. Akhir nya kuputuskan untuk tidur di depan teras, di lantai yang mendingin tak beralaskan matras, hanya jaket jeans yang lusuh ini.
Pagi datang lagi, aku terbangun dan sudah mengenakan selimut. Ahmad pasti yang memberikan ku selimut, aku begitu malu. Karena teman Ahmad berada di depan teras rumah sedang menyeruput kopi dengan nikmat nya.
“Gus, kemana aja kamu. Sana masuk, ngopi dulu”, ajak nya pada ku.
Aku hanya tersenyum malu dan berjalan memasuki rumah, aku lalu mencari Ahmad menjelaskan bahwa semalam aku mengantar teman ku. dan dengan segala penjelasanku yang singkat, Ahmad memberikan ku amanat yang tidak singat sama sekali. Bukan mukrim lah, atau apa lah. Semua disebutkan hukum – hukum agama islam. Dan aku hanya menunduk, berakting manggut atau manut. Aku kembali ke kamar dan tidur lagi. Baru beberapa menit aku tertidur, telefon genggam ku berdering kencang.
“Drrrttt, Drrrttt, Tenoottt, Tenottt” , suara telefon ku. telefon entah dari siapa, dengan mata yang masih mengantuk dan lingkar hitam yang menghiasi bawah kelopak mata ku. Andini, dia menghubungi ku. sepagi ini, tidak tahu orang masih mengantuk tapi apa boleh buat. Aku dan dia telah mengadakan janji di hari sabtu ini, untuk malam minggu ini. Ku kan habis kan waktu menghibur nya.
“Halo..”
“Gus, dimana lu? , nanti jadi kan?” tanya nya berusaha memastikan.
“jadi – jadi, jam 5-an gue kesana ya. Gue mau tidur lagi nih. Ngantuk banget.” , jawab ku sambil menguap.
“yaudah deh Gus, bye.” , jawab nya singkat.
“Kriiiiiinngggggggggggg….!!!!”, alarm ku berbunyi kencang. Menunjukan pukul 16.30 sore.
Aku tak bergegas bangun, malas – malas an aku meraih handuk yang tergantung, dan berjalan menuruni anak tangga. Menggaruk kepala, sambil menguap tanda hibernasi ku belum cukup. Setelah mandi badan ku begitu segar, dan bergegas keluar untuk menjemput Andini. Di bus kota yang ku naiki, aku bertemu dengan pengamen yang menyanyi kan lagu The Beatles, yang menegaskan lirik “All of my life I’ve been searching for a girl who’ll love me like you, but every girl I’ve ever had breaks my heart and leave me sad, what am I what am I supposed to do,..ohhh..” lagu dari The Beatles yang berjudul Anna. Lagu itu begitu pas dengan kehidupan cinta ku, namun begitu tidak pas ketika sekarang kau membuka lembaran baru terhadap Andini. Aku tertawa terkikik lagi, dan sampai lah aku tepat di depan gang persimpangan jalan. Saat menuruni bus, dan melihat bus yang kunaiki tadi melesat pergi aku membeli rokok di warung depan jalan. Dan kembali berjalan menuju kost Ibu Rahma. Ternyata Andini sudah siap menunggu ku di depan rumah. Mengenakan jeans yang robek di bagian kedua tempurung lutut nya, agak belel – belel, t-shirt hitam bertuliskan “A smile can bring you near to me”. Dan tak lupa kamera canon nya di kalungkan di leher. Dan tas selempang hitam yang sudah agak kotor. Begitu cantik dia begitu adanya, tanpa mengada – ada atau tambahan alat kosmetik lain. Selain lipstick merah muda yang mengecap di bibir nya yang mungil. Begitu sederhana wanita itu, jujur, dan tulus. Mengingatkan aku pada ibu yang selalu sederhana dan jujur apa adanya.
“gila, anak fotografi mau jalan nih sama mas – mas bartender.” , canda ku pada nya sambil terkikik kembali dengan nya. hanya sengaja, untuk melihat senyuman Andini yang begitu menggemaskan.
“dasar lu, bisa aja. Gue minta rokok dong.”, jawab nya pada ku.
“tau aja lu gue habis beli rokok.” , jawab ku pada nya sambil mengambil bungkus rokok di saku kemeja flannel kotak – kotak. Dan kami berjalan mencari bus jurusan fatahilah, hari ini kami akan menelan malam di fatahilah melihat kehidupan kota Jakarta yang penuh warna. Sampai kami disana tertawa canda, kadang berfoto bersama mesra. Ku lihat wajah nya begitu senang hari ini, aku harap aku lah yang membawa keriangan itu kepada nya. dan setelah lelah seharian kami bercanda dan berjalan, duduk lah kami di taman kota, sambil menyantap nasi goreng. Kami mulai berbicara kembali.
“Gus, menurut lo kesetiaan itu apa?”, tanya nya serius dengan kedua bola mata yang hitam itu menatap pada ku penuh harap.
“Kesetiaan itu,..adalah.. perasaan saling percaya, mau apa pun argument nya. individu itu akan tetap bersama dengan perasaan saling percaya itu. Walaupun nanti ada pasti yang berkhianat sama kesetiaan yang udah dibuat. Salah satu yang tetep percaya sama kesetiaan itu, akan terus menunggu dan setia. Ya gitu lah pokok nya.” , jawab ku pada Andini.
“indah ya, kalau aja kesetiaan itu abadi. Tapi mungkin gak sih Gus, kalau orang itu setia tapi sampai pada titik jenuh nya? berarti gak ada satu pun orang yang setia kan?” , tanya nya Andini pada ku.
“menurut gue, kesetiaan itu abadi selalu ada di setiap diri manusia. Tapi manusia tuh penuh mimpi dan obsesi, jadi kesetiaan itu bisa aja hilang sebentar, tapi sebenar nya kesetiaan itu tetep ada di setiap diri manusia.” , jawab ku sedikit membingungkan diri ku sendiri, dan sampai sendok nasi goreng terakhir.
“jadi sebenernya manusia itu sendiri kan, yang ninggalin kesetiaan itu. Bukan kesetiaan yang hilang meninggalkan manusia itu?” , tanya Andini sekali lagi pada ku.
“iya kurang lebih begitu, jadi kalo orang janji bakal setia tuh sebener nya nilai nya positif. Cuman ya, jangan sepenuh nya percaya dengan janji itu. Karena janji nanti makan orang itu sendiri, karena janji malah nawarin masalah Din.” , jawab ku pada nya sambil menyulut sebatang Djarum Super.
“tapi Gus, thanks yah. Lo udah baik banget mau nemenin gue. Yah, mau orang itu setia atau enggak. Itu soal keyakinan sih, gue sih oke – oke aja. Yah bagus kalo bisa setia, kalo udah gak yaudah gak apa – apa.yang pasti gue selalu mau ada orang yang bisa bagiin gue keceriaan itu Gus.” , jawab sambil tersenyum manis, menggoda ku. seperti sedang dalam masa pencobaan ku. apakah aku sedang dalam pengujian kesetiaan itu sendiri. Lembur nya malam hari ini menembus selaput mata, sebutir bintang terbit mengajak kawan nya menyinari keindahan perbincangan kesetiaan kami berdua. Kerumunan orang – orang bermain bercanda tawa, pasangan – pasangan kasih bercumbu ria, di gelap nya malam. Dan lampu petromak yang nyala mati dari gerobak nasi goreng membuat laron – laron hinggap. Takjub memandang indah nya malam, kami berjalan bergandengan tangan. Masih dengan asap yang mengebul ditiup angin. Dan berhentilah langkah ku, untuk siap mengatakan sesuatu. Sesuatu yang aku tunggu, untuk memastikan pertanyaan – pertanyaan Andini tadi.
“Din, gue tau kita baru kenal. Mau lo nanti merendah apa pun itu, lo selalu manis di mata gue. Tentang kesetiaan itu, gue gak bisa mastiin. Tapi jika lo dan gue belom mencoba, dari mana kesetiaan itu mau datang. Apa gue doang nanti yang setia nunggu lo, terus lo nya masih terambang – ambang sama pacar lo yang selingkuh itu? Gue harap, gue yang ada hapus tangis lo waktu lo sedih, gue harap gue yang datang ketika lo sedih, dan gue menghibur lo. Gue harap, lo masih mau coba arti kesetiaan itu sendiri. Lu mau gak menangkis hajaran masa lalu lo, dan mulai dengan mengecup bom waktu yang baru?” , kata ku dengan panjang, dan sedikit terbata – bata nada nya. sambil memegang tangan nya, ku coba melayangkan bibir ku yang menganga ke arah bibir nya, mencoba meraih bibir nya dan berharap hapuskan kenangan yang tertinggal di bibir nya. jika ia tidak menolak nya, dia akan menjadi pemantik bom waktu yang setia itu, dan jika ia menolak, hajaran bom waktu yang lama belum sempat ia hapuskan.
Sekejap bibir ku sudah menindih bibir nya, ku telan kenangannya menjadi serpihan ludah yang basah, dengan balasan lidah nya yang bermain dan menggigit bibir ku. lalu tangan ku sudah ada tepat pada leher nya dan mengelus nya dengan perlahan. Mendayu sampai langit menghitam, tangannya berada pada dadaku dan mencoba mendengarkan detak jantung ku. aku dan dia membuka cinta dan kesetian baru yang berawal dari segelas bir di Bar Biru. Sungguh malam yang menyenangkan, kuharap tak pernah ia lupakan. Bangku – bangku taman tidak terawat di taman kota memandangi kami iri. Lanjutkan. Perjalan kami baru di mulai, dengan segala cobaan yang nanti akan datang.
2.Naluri Disk Jokey Lesbi
Pagi sekali datang tidak beserta dengan matahari, namun kali ini matahari tidak turut serta hanya terang nya yang terlihat menemani. Sebuah pertanyaan mengapa matahari tidak kunjung datang hari ini. Hubungan ku dengan Andini berjalan begitu baik nya 2 minggu ini, aku sekarang sudah mulai tinggal di kost Bu Rahma. Dengan bayaran Rp.400.000,00 sebulannya tambahan uang listrik Rp.25.000, dan uang cuci baju Rp.5.000,00 per-minggu nya. untuk aku sudah menabung dari kemarin – kemarin. Dan aku sudah mengucapkan salam perpisahan dengan tetangga – tetangga ku di sana, Ahmad dan teman – teman nya kini bisa selesaikan kegiatan nya tanpa ada aku di rumah nya. aku sedang di kamar tempat Andini tinggal, tak seorang pun tahu kami sepasang kekasih. Tak seorang pun tahu kami sudah pernah bercinta di luar nikah, di kost ini ketika sepi. Tak seorang pun tahu kami sempat bercinta di kamar Bu Rahma. Dan kami tertawa cekikik ketika mengulang kejadian itu kembali sempat satu atau dua kali. Saat ku sedang bercanda meminum sebotol bir dengan Andini, lewat lah wanita yang cantik mengenakan hot pants jeans, dan likukan bokong nya begitu sintal. Badan nya berisi, sekal, dan sexy. Rambut nya terurai panjang sampai punggung, kulit nya putih halus, sedang mendengarkan music trance dari Andre Benassi. Terdengar volume music nya keras sekali.
“Din, temen mu tuh?”
“iya kenapa? Tertarik?! , kalau begini aku perlu bertanya soal kesetiaan kamu lho.”
“gak, apa sih kamu.”
Sambil tertawa cekikik lagi, aku mencumbu iya kembali. Dan menutup pintu kamar, lalu kami bercinta lagi. Aku berada di atas nya, menindih nya lagi dan lagi. Sesaat sedang aku melucuti baju andini yang kebesaran, aku bertanya lirih.
“dia kuliah sama kamu?”
“gak, dia itu DJ. Katanya lusa besok dia main di Bar Biru.”
“oh..”
Kembali aku melanjutkan melucuti pakaiannya, dan sekarang Andini hanya mengenakan bra nya yang hitam. Tak pernah bosan aku melihat buah dada nya yang bulat dan manis. Aku berjalan menjelajah dengan lidah ku yang penuh ludah. Menghisap puting nya yang merah muda. Mengecup leher nya, dan kami larut dalam cinta pukul 7.30 pagi. Akhir – akhir ini kami begitu bergelora, inilah kegiatan menumbuhkan kesetiaan kata ku. lelah bercinta pagi – pagi tak sadar kan aku tertidur, dan ketika terbangun Andini telah pergi untuk kuliah fotografi.
“Drrrrttt…. Drtttt….” , bunyi suara telefon genggam ku yang menunjukan ada SMS masuk.
Ternyata dari teman ku, katanya 2 hari lagi akan ada “Glory Night” dan Dj Vera main. Dj yang seksi. Modern dance dari “Young Dance” juga akan beraksi. Seperti nya aku tidak boleh memberi tahu Andini kali ini. Dia pasti bakal cemburu sekali dengan ku. sampai lah pada hari pertunjukan itu, aku bekerja lembur hari itu. Pertunjukan Dj Vera belum juga dimulai, hanya “Young Dance” yang habis beraksi menggebrak celana – celana lelaki yang menyempit, karena tarian erotis nya.
“Mas pesan bir satu” , suara seorang wanita yang agak serak – serak basah.
“bentar ya mbak”
Aku belum menatap pembeli itu, yang ku yakin dari suara nya wanita itu pasti cantik.
“ini mbak minuman nya.”
“makasih ya”
Wanita itu Vera, Dj yang di tunggu – tunggu. Tak disangka, aku telah bertemu dengan nya. memberikan segelas bir kepada nya, tanpa melihat dan mengajak nya bicara. Basa – basi, untuk merekat kan hubungan antar anak kost.
“Ver, gue Agus. Se- kost lo sama lo.”
“oh iya, gue pernah lihat lo di kost nya Andini. Lo cowo nya ya? Gue denger lho waktu lo pada ehm ehm..” , jawab nya sambil tertawa.
“gue kira gak ada yang tahu gue pacaran sama dia.”
“iya emang gak ada yang tahu, tapi gue kan sebelah kamar Andini, jadi gua tahu lah suara nya.”
Jawab nya setelah beberapa lama kami berbincang – bincang. Dia melanjut kan meneguk minumannya, lalu mengucapkan salam pada ku.
“duluan ya gus, next performance gue nih.”
“oke – oke, sukses ya!” , jawab ku beri semangat pada nya.
Dia bermain begitu indah, mengcover lagu dari Bee Gees yang di ubah beat nya menjadi lebih cepat. Walau aku tak mengerti betul. Dia mengcover bagian reff nya begitu indah. “night fever, night fever, we know how to do it, gimme that.” Malam berlanjut, manusia – manusia bergoyang. Kali ini Dj Vera memainkan lagu dari Talking Heads yang berjudul Psycho Killer. Di lantai dansa semua berdansa dengan kaki – kaki indah nya. banyak sekali yang bercumbu di sana. Semerbak harum lantai dansa berpentas, sepatu tinggi menggebrak, lagu disko yang menyemarak. Membuat dentuman aliran emosi menjadi lebih santai terasa. Pinggul – pinggul bergoyang, sudah lagu ke – 6 dan sekarang adalah lagu terakhir. Dan kali ini aku tak tahu judul lagu nya.
“thank you, that is so amazing crowding!, gimme your lights, dance – dance every nights!” , teriak Dj Vera kepada penonton yang begitu mengapresiasi pertunjukannya. Seorang pengunjung wanita melempar pakaian nya ke langit atas lantai dansa. Seketika terbuka, menari striptis di sana, ku yakin wanita itu mabuk dan terbawa alur lagu yang mempesona. Semua pengunjung berteriak senang. Dan pertunjukan pun selesai. Aku disini lembur. Pengunjung mulai beranjak dari lantai dansa dan pulang. Pukul 04.00 pagi. Bar Biru akan tutup, karena hari akan segera pagi. Dj Vera masih di sana, berbicara dengan seorang lelaki. Aku mengemasi gelas – gelas yang ada di meja – meja. Mencunci nya, lalu menggantung nya. begitu melelahkan hari ini. Saat ku sedang berjalan untuk mengangkat kursi ke atas meja – meja. Dj Vera tampak selesai berbicara dengan pria itu. Dan berjalan menuju ke arah ku.
“eh lo balik naik apa?”, tanya Vera pada ku.
“gue jalan Ver, lo mau ikut. Tapi tunggu gue rampung ya.”
“yaudah, gue tunggu di luar ya.”
Oh begitu senang aku akan pulang dengan wanita cantik seperti nya. tak terpikir oleh ku, jika saja Andini tahu. Sekarang semua telah selesai, aku dan Vera berjalan menuju kost-an. Kepala nya mendongak ke langit, seperti pusing sekali. Dia mengerenyit kan dahi nya. dan mengusap – usap dahi nya yang berkeringat.
“pusing banget nih gue” , kata nya pada ku sambil meminum pil yang ku tahu. Pil itu adalah Dum. Biasa orang memakai nya untuk stimulant. Agar tetap vit, namun memabukkan.
“eh iya, ikut yuk. Ke rumah temen gue, deket kok. Gue udah gak kuat nih, lo anterin gue ya. Masak lo gak kasian liat gue ngantuk gini brad?” , ajak dia dengan nada bercanda.
“i..yaa. deh., lo sih hiper banget minum pil nya, mau ngemplang sih boleh. Jangan banyak – banyak kali Ver.” , saran ku pada nya, sambil meraih tangan nya ke pundak ku.
“iya deh Gus, thanks yah.”
“iya sama – sama”
Tak kusangka, iya begitu kelelahan dengan pertunjukannya hari ini. Dalam kondisi mabuk itu, aku tak berusaha sekali pun untuk mencari kesempatan. Teramat gelap dan sunyi gang menuju rumah teman nya, sunyi hanya ranting – ranting kecil menjadi pemandangan yang berserakan di jalannya. Dan asap – asap dari rokok ku yang masih mengebul. Sesampai nya disana, rumah nya kosong. Temannya tak ada di rumah, namun pintu rumah tak terkunci. Aku memastikan bertanya pada Vera. Apakah boleh kita masuk. Dan Vera hanya diam bersenderkan kepala di pundak ku. setelah nya sampai di dalam rumah. Vera langsung terjatuh di sofa rumah. Aku menutup pintu dan mencari minum di kulkas. Berawal lagi dari segelas bir. Aku duduk di sebelah Vera. Dan membakar sebatang rokok lagi. Vera tertawa cekikik, malam menelan kami bersama. Kami tertawa bersama ketika, terlalu banyak juga aku mengkonsumsi bir. Sampai aku ingin sekali mengucurkan berliter – liter air pipis.
“Ver, sejak kapan lo jadi Dj?”
“Udah lama Gus, dari SMA gue udah latihan Dj. Gue sering kabur – kabur an dari rumah.”
“Hah? Ngapain lo kabur?”
“Biasa lah Gus, orang tua gak setuju sama kehidupan gue yang hedon, habisin uang untuk disko tiap malem.”
“Bandel sih lo..”
“Emang cewe gak boleh bandel yah? Kalo dia suka jadi bandel kenapa?”
“Boleh sih, gue kalo jadi lo sih tetep idealis. Gue juga kayak lo kok dulu, kabur – kabur an buat nge band.”
“Emang ya Gus, orang tua tuh kolot banget. Sok – sok suci semua, ngajarin agama, ngaji dan sebagai nya. berasa sempurna aja mereka.”
“Itu buat kebaikan lo kali Ver”
“Tapi kalo lo tau ya Gus, mereka tuh gak lebih baik dari gue. Bukti nya mereka cerai kan? Padahal sama agama dilarang. Nyokap gue, nikah lagi sama cowo bule, bokap gue kerja nya main cewe terus, ngewe terus.”
“Lupain aja Ver”
“Apa cowo gak tau perasaan cewe ya? Setiap pembicaraan nya mulai kebawa perasaan, pasti cowo itu menghindar dan bilang lupain aja. Segampang itu cowo bilang lupain aja.”
“Karena cowo tercipta berpikir secara logika Ver”
“Terus kenapa Adam, ikut sama Hawa yang nawarin buah pengetahuan?, kalo udah ada peringatan jangan makan harus nya secara logika Hawa cari buah yang lain.”
“Namanya juga kepepet Ver, laper kali.”
“HAHAHAHAHAHA….” Kami berdua tertawa dengan pembicaraan kami yang terlewat batas. Kami berbaur begitu dalam. Sampai pada titik tertentu Vera bertanya pada ku.
“Cewe lesbi salah gak sih gus?”
“Enggak”
“Kalau cowo homo?”
“Salah-lah!”
“Kenapa?, kan sama aja”
“Cowo tuh gak boleh homo gitu aja”
“Berarti cewe dan cowo berbeda dong ya? Cowo lebih tinggi martabat nya, cowo harus gengsi untuk mengatakan diri nya homo. Kalau cewe direndahin, sampe lesbi aja boleh. Jadi cowo gak enak, make gengsi segala.”
“Tergantung sih Ver”
“Cowo emang suka yang tergantung – gantung kan?, sampe perasaan cewe di buat tergantung nunggu kepastian..”
“Pusing gue..”
“Tuh kan segampang itu cowo nyerah sama pertanyaan – pertanyaan, padahal ngaku nya argument kuat, terus martabat lebih tinggi dari cewe. Cowo tuh cupu tau gak?”
“Mau gue tunjukin?”
“Tunjukin apa?”
“Kalo cowo lebih kuat dari cewe..”
Aku langsung mencium bibir nya tanpa berpikir dulu, terdengar suara riuh rendah dari mulut Vera. Aku menindih nya. Tangan nya turun, ku kira dia menyerah. Lalu dia meraih celana ku yang bersabuk kulit dan melepas kan nya. mencium leher nya dengan basah ludah dari bibir ku, kaki yang bersila tadi terbuka menganga, dan langsung ku memasuki penjelajahan ku tentang cinta yang semu. Atas pembicaraan tadi, semua terbukti. Aku memang mahkluk yang mudah tergoda, secara instant. Wanita itu bisa membunuh martabat lelaki yang mengaku diri nya lebih tinggi dari perempuan. Padahal kita sama – sama manusia. Harus nya sama, dan punya hak yang sama. Vera membiarkan lidah ku menjelajahi rongga mulut nya, membiarkan jemari ku menari di elok tubuh nya yang sexy dan berisi. Dan sial! Aku menyerah. Sepintas saja aku berpikir tentang Andini, kalau begini aku telah merendahkan martabat wanita. Dan membuat ibu ku sedih. Aku tak mau jadi laki – laki bajingan. Aku langsung bergegas melepas kan segala kelibat tubuh ku di atas nya.
“Maafin gue ya.”, kata ku pada Vera.
“Ya kan lo nyerah.”
“Iya gue nyerah, tapi gue nyerah karena gue inget sama Andini. Gue gak mau buat wanita sebagai objek. Semua sama, wanita adalah sebuah subjek. Dia berhak dapet apa itu hak nya. gue ngerti sekarang. Walau gue gak terlalu yakin. Cewe lesbi tuh gak salah, terserah dia mau apa. Gue gak mau konservatif mikir nya, cowo homo juga gak salah kalo emang dia suka jadi homo, walaupun gue agak jijik liat nya. tapi kenapa gue gak jijik liat cewe lesbi, karena pasti gue memandang wanita itu sebagai objek. Cukup seniman aja, yang anggap wanita sebagai objek seni. Gue yang bartender, ngelayanin cewe sebagai subjek.. lo nge-buka pikiran gue Ver.”
“Akhir nya lo buka mata sama orang disana, thanks lo udah mau terlibat hari ini ya. Tapi kalo gue gak nolak lo untuk sex sama gue, gimana?”
“Tetep gue gak bisa, walau lo seksi banget jujur..”
“HAHAHAHA”, kami tertawa cekikik kembali dan melanjutkan obrolan kami lalu tertidur. Gelas yang sesap buih putih nya tidak kuning lagi, tinggal busa – busa yang tertinggal di pangkal gelas memandangi kami tersenyum. Dan pagi telah datang, tapi kami terbangun di siang hari.
3.Peluh Perih Alma
Tak kusangka berakhir disini, setelah kejadian hari itu. Vera mengajak ku pada pesta perkawinan ibu temannya. Aku, Andini, dan Vera pergi kesana. Kata Vera, tante Alma adalah wanita yang ditinggal suami nya pergi menikah dengan wanita lain. Sekarang dia sedang berusaha terpaksa menikahi pria yang tidak ia cintai sepenuh hati. Dia hanya berusaha menghapuskan kenangan nya pada pesta perkawinan nya yang begitu ia rindukan. Mesin waktu menentukan alur peristiwa itu, tante Alma tak sedia lepaskan kenangan indah dan buruk dengan suami nya. dia begitu mencintai nya, sampai titik darah peghabisan. Pertemuan – pertemuan nya dengan calon pengganti suami nya dulu tidak berjalan lancar. Malah setiap pertemuan yang ditentukan oleh waktu tersebut, membawa tante Alma mengingat terus kejadian dan kenangan itu.
Saat di café, dia teringat dengan Heri mantan suami nya. ketika ia menunggu calon pengganti Om Heri, dia malah melihat kejadian masa lalu nya di café itu. Dulu saat masih menjalin hubungan tali kasih dengan om Heri, tante Alma di sana memadu kasih. Bersentuhan tangan bersembunyi di antara cangkir – cangkir kopi, menggunakan kuping sebagai indera pendengar cinta mereka berdua. Lelaki itu pernah berdiri di belakang nya, menyisir tiap helai rambut nya, mendesar lirih rendah, dengan kata – kata cinta yang di tebarkan. Sampai saat nya, kejadian itu.
“Siapa wanita itu?!” , bentak tanya Alma.
“Dia teman kantor ku, klien ku.”
“Jujur apakah kamu masih mencintai ku, seperti awal bertemu?”
“Masih, aku mencintai mu”
Alma kurang yakin dengan pernyataan itu, lalu membanting meluapkan amarah pada vas bunga yang tidak bersalah.
“Kamu pasti berbohong pada ku, semalam kamu tidak pulang. Pasti kamu pergi sama dia”
“Jujur aku pergi dengannya, semalaman kami membunuh waktu. Tanpa pernah ada prasangka buruk. Jujur aku juga mencintai nya, namun juga mencintai kamu. Andai saja kamu mau di madu.”
“Mana ada seorang istri yang mau di madu?!”
“Praak!” , Alma menampar pipi kiri Heri sampai berpaling muka Heri ke kiri.
“Tak lihat kamu, anak kita disana jika tahu ayah nya beristri dua?”
‘Aku sudah beri tahu mereka, bahwa tante yang satu ini sayang juga pada nya.”
“Praak!” , tamparan kedua ke pipi kanan nya.
“Kenapa kamu tega?” , dengan nada yang lirih dan hampir menangis. Dan meringkuk kan badan pada lantai marmer rumah nya.
“Kenapa kamu tega?!, dia bukan anakku, tahu kah kamu? Kamu juga bercinta dengan lelaki itu. Dan melahirkan anak itu. Jika saja aku tidak terlalu berperasaan ingin melindungi mu, dari lelaki yang memperkosa mu itu.”
“Praak!” , tamparan ketiga begitu panas terasa mengecap merah di pori – pori kulit nya.
“Dulu aku setia menunggu mu di rumah, menunggu mu pulang ke rumah, saat kau sedang senang – senang dengan pria – pria muda di café. Saat kau sedang telanjang di pandagi tubuh nya, oleh pria – pria muda disana.”
Tangan nya ingin menampar lagi, namun kali ini Heri sigap menangkap tangannya. Lalu menjatuhkannya.
“Aku ini lelaki kesepian. Kamu nikah saja dengan mereka laki – laki muda. Aku setia bekerja setiap hari, dan uang nya untuk menghidupi kamu, dan anak mu, bukan anak ku. lalu untuk biaya kosmetik mu, alat mandi mu, beli susuk mu, untuk kamu mencari kepuasan dari laki – laki muda itu., terus saja berkata pada ku, bahwa aku yang salah. Memang berat yang kamu tanggung jauh lebih susah dari ku. yang hanya bekerja lalu meminta bagian dari tubuh mu, tapi kamu enggan berbagi itu. Lalu apa peduli mu pada ku?! , beri sedikit dada mu saja tidak. Hanya kejadian di café itu aku rasakan cinta mu. Setelah nya tidak ada!”
“Tampar aku!”
“Tidak, walau aku sebenarnya patut menampar istri seperti mu. Tapi aku tak mau.”
“Kenapa?”
“Karena kamu seorang Ibu, dan mengandung seorang anak tanpa ayah. Aku ayah itu, yang berani bertanggung jawab, walau aku tak lakukan itu.”
“Kalau begitu, biar aku rasakan bibir mu”
“Apa tak cukup bibir anak – anak muda itu?!”
“Praak!” , tamparan ke-empat yang mulai tidak berasa.
Sungguh kejadian itu membuat, tante Alma begitu jatuh cinta pada Heri. Heri yang selalu ada menunggu cinta Alma, yang walaupun Alma hanya mencintai rasa bercinta dari pria – pria muda. Dan penyesalan atas kesemuan itu berlangsung ketika hari perkawinan ini berlangsung. Wajah nya begitu murung, peluh perih menahan rasa sakit ini. Dia menunggu seseorang datang, seorang yang dulu setia menunggu di depan pintu, ketika Alma datang dengan mual – mual. Lelaki yang tak pernah rela bayi itu digugurkan walau Alma meminta nya beberapa kali. Dan terang datang, seperti kunang – kunang. Ada burung terbang, mengepakan sayap nya. hadir dengan gagah nya, membawa setangkai bunga. Kaca – kaca menangkap bayang nya, dia berjalan dengan memegang setangkai bunga. Menghampiri Alma yang peluh perih. Seperti keran yang lupa tertutup mata nya terus berkucur air tangis di belakang panggung pernikahan. Sampai lah lelaki itu tepat di depan Alma.
Dengan kaget dan tergagap, Alma diam.
“Kerap pada saat malam – malam membunuh ku, aku teringat kamu. Kerap saat aku jenuh dan mencoba bercinta dengan wanita penghibur, aku ingat kamu yang walau jarang menghibur ku. kerap saat ku memandangi kursi, aku rindu tamparan mu saat membangun kan ku. hanya telur mata sapi pagi hari yang bisa kamu sajikan, bukan tubuh mu atau cinta mu. Tapi ijinkan aku mengahapus peluh perih mu, untuk siap kan judul baru bahwa “aku selalu menunggu mu.” , aku akan setia menunggu mu.”
Aku, Andini, dan Vera menjadi saksi kejadian itu. Alma menangis mendengar perkataan itu. Perkawinan ini di taburi kenikmatan cinta mereka berdua. Semua tidak terencana namun terjadi secara teratur, keindahan cinta oleh buih kesetiaan.
4.Sekuat Cinta Wiwik dan Edi
Sudah pagi, ketika kudengar suara lonceng gereja yang berdentum lima kali. Dan suara azan membalas nya karena gereja dan masjid berdekatan di sini. Suara dentuman itu semakin seru, mungkin akan ada misa pagi. Suara – suara itu menumpas waktu istirahat ku, dan beranjak lah aku dari kamar menuju kamar Andini. Ku ajak Andini untuk pergi, menghirup udara segar pagi hari. Embun – embun pagi hari yang sesap nya tertinggal di dedaunan melihat kami yang dengan asik meminum udara pagi hari dan memuntahkannya lagi. Dengan mata yang masih mengantuk Andini berjalan kembali menuju dalam rumah, seperti nya aku telah menumpas waktu istirahat nya, kemudian ia pun terjatuh kembali di atas kasur. Saat aku sedang sendiri, seorang wanita yang ku kenal keluar dari kamar, berjalan sudah siap dan mengenakan pakaian yang rapi. Rambut nya ikal keriting dan tebal, kulit nya hitam manis, dan tidak terlalu tinggi. Berjalan dengan pinggul nya yang naik turun, lalu duduk di sofa untuk mengenakan sepatu sandal. Membawa sebuah buku, yaitu alkitab. Lalu dia melanjutkan aktifitas nya, berjalan keluar rumah. Membuka pagar, dan menyapa ku.
“Mas Agus, pergi dulu yah..” , sapa nya hangat, dengan senyuman hitam manis nya.
“Eh iya, silahkan. Mau ke gereja ya?”
“iya mas, duluan yah..”
Dan dia pun berjalan lagi tanpa menoleh kembali ke belakang. Entah siapa dia, namun pernah ku lihat dia dulu sedang berdoa dia pasti seorang yang taat beribadah. Aku kembali ke teras dan menyulut sebatang rokok yang tersisa di kotak rokok ku. mendesak ku untuk batuk, ketika dia datang lagi.
“Ada yang tertinggal” kata nya pada ku sambil berjalan mempercepat langkah nya.
Dia melewati ku, dan kepala ku seiring mengikuti gerak tubuh nya menoleh ke arah nya. kudengar suara pintu yang dikunci kembali, dan dia segera kembali keluar dari rumah.
“Handphone ku tertinggal, pergi yah.” , sekarang dia menyapa ku dengan terburu – buru.
Ku hisap kembali rokok ku yang asap nya menebal diiringi sinar matahari yang mulai terbit di ufuk timur. Ketika beberapa saja menit kulalui, Andini keluar kamar. Seperti nya dia tidak bisa tidur kembali karena tadi kubangunkan.
“Temen mu yang rajin ke gereja itu siapa namanya Din?”, tanya ku pada Andini.
“Oh itu Wiwik, sebentar lagi dia menikah lho Gus.”
“Kalau kita kapan dong Din?” , tanya ku sedikit canda.
“Gak usah buru – buru deh kamu nih, pacaran aja masih susah gimana nanti menikah? Proses nya kan susah dan banyak kendala” , jawab nya sambil tersenyum menahan tawa.
Ketika matahari semakin cerah bersinar, Wiwik kembali datang. Lalu duduk di teras, dengan dahi yang agak mengerinyit. Cahaya matahari menerobos masuk jendela kamar – kamar kos, mereka sudah bersiap untuk aktifitas nya. kami saling menyapa, dan Wiwik masih terdiam di teras rumah sambil mengutak – atik handphone. Andini pun kembali ke dalam rumah untuk mandi. Aku pun mencoba berinteraksi dengan Wiwik.
“Halo Wik, kenapa kamu?”
“Tidak, tidak apa. Aku hanya bingung sama Edi. Dia calon suami ku, beda agama. Hubungan kami tidak pernah disetujui oleh kedua orang tua nya. apalagi aku, Ibu ku pasti marah sama hubungan kami. Edi itu sudah di jodohin, dia ingin membahagiakan orangtua nya setiap saat. Aku merasa hubungan kami akan terancam, padahal kami sepakat akan menikah bulan ini. Makanya aku pergi ke gereja setiap pagi, minta sama Tuhan supaya kami bisa tetep sama – sama.” , jawab nya pada ku.
“Gak selalu kamu harus turutin kata orangtua Wik, kalau kamu yakin sama hubungan kamu dengan Edi. Lanjut-in saja.”
“Gak di factor orangtua aja, kalau hanya factor orangtua kami juga berani untuk kawin lari!”
“Jangan kawin lari, restu orangtua itu penting Wik.”
“Tapi kalo mereka gak setuju?, aku gak bakal mungkin bahagia kalau gak sama Edi. Tapi aku gak yakin Edi akan selalu bahagia kalau sama aku.”
“Jelasin bahwa zaman sekarang, perbedaan agama gak selalu jadi kendala. Kalau masih ada cinta, perbedaan agama juga cuman jadi setitik noda Wik.”
“Kan dosa., jika menikah tapi beda agama..”
“Cinta itu udah gak mikirin dosa atau enggak, yang penting saling percaya. Kalau kamu aja mikir menikah beda agama itu dosa, gimana kamu yakin untuk ngelakuin nya?”
“Kenapa Edi gak mau aku suruh pindah agama ya?”
“Bukan main! Bisa dihajar dia sama orangtua nya, gimana nanti tetangga orangtua nya bilang. Kalau si Edi udah pindah agama. Jangan pernah maksa dia jadi sesuatu yang kamu mau, terima dia apa adanya, sebagai subjek yang punya hak nya. siapa tau dengan kamu nunjukin kamu terima apa adanya, jadi nilai tersindiri buat orangtua nya, kalau cinta itu tidak dihalang oleh perbedaan agama..”
“Tapi kenapa orangtua nya maksa Edi jadi yang dia mau, dia selalu dituntut sama prestasi, menikah aja harus sesame agama, padahal apapun agamanya sama saja tergantung orangnya. Katanya Tuhan maha adil?”
“Orangtua nya Edi cuman mau yang terbaik buat Edi. Bukan untuk menyudutkan kamu ya Wik, mungkin menurut pandangan dia wanita yang seagama lebih baik. Tuhan maha adil? Memang kadang dia gak adil sih, tapi sekarang gini deh cara berpikir kamu diubah. Anggaplah bawa Tuhan ngasih cobaan ini pasti bisa kamu lalui, anggaplah bahwa Tuhan gak mungkin kasih cobaan lebih dari batas kemampuan kamu. Pasti kamu bisa Wik!”
“Coba aja agama gak ada, kita pasti setara banget yah Gus. Semua nya gak ada gengsi – gensi. Berlebihan.”
“Memang itu watak manusia dari awal Wik, agama pada awal nya untuk ngeyakinin manusia kan bisa masuk surga. Supaya kekhawatiran kita bisa hilang dengan penguatan spiritual atau kita sebut itu agama. Makin lama budaya beragama itu berjalan, jadi ada kesenjangan. Jadi nya timbul itu tidak kesetaraan antar manusia beragama. Agama “A” ingin agama nya lebih dominan dari agama “B”, agama “B” gak terima dan ngelawan. Yah, basi banget deh Wik.”
“Waktu itu, aku udah ketemu sama orangtua nya Edi. Dia lihat aku pakai kalung salib. Terus orangtua nya bilang, untuk jangan main sama Edi. Keluarga modern, tapi radikal banget sama agama lain.”
“Mereka yang berpikir seperti itu, orang – orang yang kurang bisa menghargain orang lain Wik. Kamu bawa santai aja, kamu yakinin Edi bahwa kamu akan selalu cinta walaupun beda agama. Dan di sisi lain, jangan lupa menegas kan Edi bahwa dia itu laki – laki. Kalau dia itu pernah berjanji untuk menikah dengan kamu, suruh dia jangan hilang tiba – tiba atau menghindar. Dekap dia, ingat kan dia untuk selalu mencintai kamu. Ingat kan dia untuk meyakinkan orangtua nya. Kita memang gak bisa memastikan, karena menurut ku kepastian itu milik Tuhan walaupun kadang aku juga butuh kepastian itu, tapi yang aku yakin semua ada kemungkinan. Jadi yakinkan diri kamu Wik, beranilah berkorban demi cinta kamu. Sudah kubilang jangan selalu ikuti kata orangtua, jika itu salah menurut kamu. Jadi dari 100% masih ada 1000% persen kemungkinan lain.”
“Dari pengalaman teman – teman ku, yang menikah tapi berbeda agama gak pernah bertahan lama. Mereka pasti berpisah, katanya sih karena factor agama.”
“Itu berarti cinta mereka kurang, kalau mereka bener – bener yakin bahwa agama bukan factor penghalang untuk terus saling mencintai mereka pasti bisa”
Sekedar meyakinkan nya aku berkata sesuai intuisi ku saja. Dan terang matahari semakin memerah. Andini telah usai mandi, setelah menit – menit dengan Wiwik aku lalui. Mata Wiwik jadi semakin yakin dengan hubungan mereka, dan Andini keluar dengan mengenakan celana pendek dan tank top yang membangkitkan gairah. Tak pernah bosan aku menatap dada nya yang mungil, memang benar aku sangat mencintai nya, bukan saja buah dada nya, tapi mata nya juga seluruh tubuh dan segenap cinta nya. semua itu yang membuat ku bertahan berminggu – minggu melewati rintangan yang ada bersamanya. Dengan bercinta penuh cinta, aku jadi semakin mencintai nya. aku memegang tangan Andini dan mengajak nya duduk. Dan matahari yang memerah menembus kaca – kaca, diiringi angin yang sekilas datang meniup rambut nya yang sedikit basah.
“Din, beda agama gak menghalangi cinta kan?” , tanya ku pada nya.
“Gak sama sekali, kan ada CINTA.” , jawab nya sambil menatap mata ku, memamerkan kemesraan kami kepada Wiwik.
“Wik, walau cinta penuh tanda tanya, jika kamu beri pena dan menegaskannya, CINTA itu lebih kuat dari dunia. Daya tarik nya melebihi Tuhan sendiri yang menciptakannya.” ,kata ku meyakinkan Wiwik yang terdiam melihat kemesraan kami.
“Tennooottt,,,, Tenoottttt,,,…” , suara handphone Wiwik berdering di sela – sela pembicaraan kami tentang cinta. Wiwik mengangkat telephon itu, dan wajah nya sedikit bingung. Dia hanya mengucapkan sepatah kata yaitu “IYA”. Dan itu sudah cukup menegaskan bahwa Edi yang menghubungi nya.
“Siapa Wik?”,tanya Andini.
“Edi..”,jawab nya.
“Ngomong apa dia?”, tanya ku pada Wiwik.
“Dia bilang.. “Aku cinta kamu, maukah kamu pergi melarikan diri tanpa restu? Berdoa lah aku selamat, 30 menit lagi aku sampai ke rumah mu. Tunggu aku, kemasi barang mu. Jangan lupa bawa alkitab dan salib, juga kalung Rosario mu. Nanti kita berdoa dulu, di masjid dan gereja terdekat. Pokok nya aku CINTA kamu.” Dan aku bilang IYA” , jawab Wiwik.
Aku dan Andini lalu berdiri, kami tak tahan menahan cinta kami. Kami ingin bercinta hari ini, dan adegannya suster gereja dengan pak Haji. Fantasi kami seliar cinta kami.
“Wik, pergilah kamu. Sudah kubilang CINTA itu daya tarik nya lebih kuat dari Tuhan yang menciptakannya.” ,kata ku pada nya sambil menaruh tangan di pundak Andini. Dan kami berjalan ke kamar, lalu bercinta senikmat keliaran kami. Pagi yang indah, matahari berteriak dan melepaskan cerah nya menembus jendela kamar kami. Ku tutup dengan korden, dan melanjutkan cinta yang tanpa silau ini.
“Aaah…” ,teriak Andini lirih rendah.
5. Matinya Bunga di Kursi itu
Begitulah kusaksikan, Bar Biru tidak seramai hari – hari biasa nya. hanya mungkin dua puluh kepala yang berjoget menikmati live music band blues. Setelah kejadian hari itu, Bar Biru sepi pengunjung. “hang fire, put it on the wire baby. We’ve got nothing to eat, we got nowhere to work, nothing to drink, we just lost our shirts” lirik yang ku dengar dari mulut seorang penyanyi berambut gondrong dan berkaca mata hitam. Jaket kulit nya diterangi lampu panggung yang bersinar terang. Seperti Jim Morrison, dia menyanyi dalam kondisi yang super mabuk. Tapi suara nya yang rendah dan serak, dikombinasi stage act seperti cacing kepanasan itu membuat kepala pengunjung berhentak bergoyang turun naik. Beberapa lagu ia mainkan, seorang datang aku ingat itu, pada hari itu pria berkumis menutupi seluruh bibir nya hingga hampir tak tampak. Dengan jaket kulit, dan esensi nya begitu misterius. Dia mencari Madam Meili. Peramal yang biasa nya datang pada akhir pekan. Madam Meili sedang meramal Bunga saat itu, seorang penari telanjang di Bar Biru. Waktu itu Bunga sampai menangis saat berbicang – bincang dengam Madam Meili. Ku ingat Bunga adalah istri simpanan dari Bos Hendro, seorang Bos di partai besar. Bos Hendro seperti mafia di daerah ku, dia akan membunuh siapa saja yang mendekati Bunga. Dan aku tahu Bunga hanya terpaksa menikah dengan Bos Hendro, hanya memanfaatkan uang nya saja. Aku jadi ingat kejadian hari itu, sangat memukul batin ku.
Di malam yang hanya diterangi sinar lampu panggung, merah, biru, hijau, dan putih. Ku ingat Madam dan Bunga sedang berbincang di kursi paling pojok dari timur dekat dengan pintu.
“Madam, aku ingin tahu bagaimana kelanjutan karir ku. tolong ramal aku..” ,kata Bunga.
Sambil mengocok tumpukan kartu nya yang penuh dengan sihir itu, Madam Meili menatap mata Bunga dengan serius tanpa mengejapkan sekali pun mata nya.
“Zodiak mu virgo?” , tanya Madam Meili.
“Iya..”
“Kamu sedang tertekan? Tidak mampu untuk menyelesaikan masalah? Atau tak mempunyai keberanian untuk jujur?, apa saya benar?” ,tanya Madam Meili.
“Iya..”
Sambil menata kartu nya sesuai dengan posisi nya, dan membuka kartu pertama dari 7 kartu yang berada di atas meja.
“Mandek ya? Pelayanan mu sia – sia. Tersiksa ya?, butuh waktu merenung seorang diri?, coba cerita apa itu benar?”
“Iya Madam, saya dengan seorang itu. Saya selalu di paksa menuruti semua yang dia mau. Di lucuti pakaian ku, dia mengikatku di kursi dan memukuli ku sampai puas. Meludahi ku, dan menjatuhkan harga diri ku. aku ingin pergi dari nya, tapi aku butuh uang nya. kekasih ku membutuh kan uang ku, dia butuh uang untuk berobat. Aku juga tak tahu apakah kedua nya salah atau salah satu nya benar.”
“Belajar lah dari apa yang pernah terjadi Bunga, jangan sia – sia kan energi mu. Kekasih mu itu, juga tidak baik untuk mu. Larikan diri selagi mampu. Kartu petapa ini menunjukan kepada mu, bahwa kamu harus sendiri saat ini. Di posisi mu yang seperti ini, semua mencari keuntungan dari tubuh dan materi mu.”
“Apakah tidak ada cara lain Madam?”
“Tidak”
Lalu Madam Meili menggerakan tangannya menuju kartu kedua, dan membuka nya.
“Kamu penuh kekuatan dan cinta kasih, kamu lakukan pengorbanan di atas singa – singa yang siap melahap mu. Kamu tunjukan pada alam cinta itu lebih kuat dari singa – singa itu.”
“Lalu?”
“Itu kelemahan mu!”,teriak Madam Meili.
“Singa sebesar itu lebih kuat darimu, jangan lengah Bunga. Nanti kamu mati. Keberuntungan akan datang ketika kamu berani membulatkan tekad sesuai naluri, lalu melarikan diri dari singa – singa itu. Ambilah keputusan tegas untuk lari, ingat singa yang satu berkuasa dan mengawasi, dan yang satu licik dan siap menguliti..”
“Baik, tolong lanjut kan..” ,Jawab Bunga sedikit lirih, nada nya seperti siap menjerit dan menangis.
“Evaluasi. Kamu butuh evaluasi. Kamu berdiri bingung sambil memegang pedang, entah kamu berpikir bagaimana cara memegang pedang itu dan melawan, atau kamu berpikir yang mana yang harus kamu serang. Yakin lah dengan evaluasi – evaluasi, agar langkah mu nanti lebih mendekati pasti. Jangan serang kedua nya, karena kamu masih bertindak tergesa – gesa. Pastikan dulu kamu kuat untuk berlari, jika sudah mandek hunuskan pedang itu dengan kejujuran, jika mereka lebih kuat nanti yakinlah bahwa kamu akan damai nanti, karena kamu kalah dengan membela kejujuran dari sebuah intuisi.”
Sambil memejamkan mata, sedikit membacakan komat – kamit dan membuka kartu ke-empat dari tarot nya.
“Madam, apakah ini pusat permasalahannya?, beri tahu aku.” , tanya Bunga.
“Ini kartu nya, terlihat seorang wanita terikat dengan tali di sebuah tiang. Mata nya ditutupi. Ada beberapa pedang di antara nya siap untuk menusuk tubuh nya. esensi nya wanita itu begitu pasrah dengan keadaan yang menekan dan menyudutkannya, tidak ada tindakan satu pun yang wanita itu lakukan, meronta pun tidak. Jika kamun terus menyikapi ini dengan pasrah dan apatis, kerumitan dalam kehidupan mu akan semakin panjang. Batin mu akan tersiksa. Apa kamu pernah jujur tidak mencitai nya?”
“Pe..rr.naah Madam.”
Bunga menangis waktu itu, aku ingat betul. Dia menunduk dan menutupi wajah nya dengan tangan. Kacau sekali batin nya. dan Madam pun membuka kartu ke lima.
“Bunga..”
“Ya, Maa.daam”
“Jangan terus membiarkan diri mu bergantung pada orang lain, ikuti perasaan mu. Mereka berdua tidak baik untuk mu. Tinggalkan mereka, hanya ini permasalahan mu. Tentang lah perasaan tidak yakin atas kemampuan mu, jadilah kuat.”
Bunga hanya diam tak berkata, dia seperti sedang merencanakan pelarian dari dua orang laki – laki yang memanfaatkan diri nya. Madam mengambil kartu ke-enam, dia melihat kartu itu dengan mata yang sedih.
“Kamu telah gagal menjalin hubungan dengan orang – orang di sekitar mu, sempat kamu yakin tubuh mu ini mampu memberikan kesenangan bagi orang lain. Namun sebenar nya kamu hanya terpaku dengan uang itu, kamu tidak senang dengan pekerjaan mu. Sesungguh nya kamu juga tidak senang dengan kedua lelaki itu. Bijak lah. Perpisahan itu bisa menjadi baik nanti nya.
“Baik Madam..” ,jawab Bunga.
Ditengah potensi malam yang menggelap, seorang lelaki datang sebelum sempat Madam membuka kartu ke tujuh. Pintu Bar yang di jaga dengan laki – laki bertubuh besar, dilewati oleh lelaki misterius itu. Pertengkaran kecil pun terjadi, penjaga Bar terjatuh di lantai. Pria itu menghampiri Bunga yang sedang di ramal oleh Madam Meili. Lelaki itu mengeluarkan tangan dari saku jaket hitam nya. langsung mengarahkan pistol itu ke arah kepala Bunga.
“DOORRR!!! DOORRR!!!” , dua kali suara pistol yang menembakan peluru nya langsung menghancurkan kepala Bunga yang mungil. Darah mengucur di lantai, Madam terpaku tegang dan kaget menyaksikannya. Badannya bergetar ketakutan. Gemertak yang menggema segera menggeliat ke seluruh ruangan. Semua mata terpancar menyaksikan kejadian itu. Pria itu telah menghapus, dan memberikan perpisahan yang menyedihkan bagi Bunga. Madam Meili menggigil dalam gelap yang luluh, di antara darah – darah yang mengucur seisi Bar Biru hanya diam terpaku pada suara tembakan itu. Tak seorang pun menangkap pria itu, pria yang membunuh Bunga dan membuat polisi sempat menutup Bar Biru. Polisi pun seakan tidak tegas karena, pria itu tak kunjung ketemu. Sudah pasti dia suruhan Bos Hendro, siapa lagi orang yang bisa menutup mulut polisi di daerah ini kalau bukan Bos Hendro. Hanya lampu disko itu yang terus menyala berjoget ketika Bunga tergeletak mati.
Dan seketika pemusik itu memainkan lagu dari The Runaways, “I wanna be where the boys are, I wanna be where the boys are..” dan music pun terhenti, fajar akan segera datang. Aku kembali pada aktifitas ku, memerhatikan kursi itu.
6. Seindah Perselingkuhan Dengan Kelamin mu
Aku sedang menatap layar televisi ku, nonton sinetron yang isinya benar – benar bodoh. Ku ganti saluran televisinya isinya berita – berita politik yang tak menarik. Bosan aku sendiri, setelah Andini pergi hanya memberikan satu kecupan dalam 3 menit itu. Andini pergi untuk 2 bulan ini, bulan maret ini sampai mei tanggal 5. Dia pergi ke jepang karena dapat beasiswa fotografi. Padahal mungkin, dia hanya berkerja freelance nanti nya. untung – untung dia jadi fotografer nanti di majalah – majalah. Di balik keindahan foto yang dihasilkannya, aku pasti turut senang melihat hasil jerih payah nya. pikiran ku tidak negative pada nya, tak ada aku pernah berpikir bahwa dia akan selingkuh di jepang. Ku bilang laki – laki di jepang tidak menarik, alat kelaminnya pun kecil – kecil. Mata nya pun sipit – sipit, tak mungkin bisa lihat Andini yang indah dan cantik itu. Sudah 1 minggu setelah Andini meninggalkan ku, aku hanya sendiri sambil meneguk gelas – gelas berisi margareta. Sempat ku berkhayal suatu hari ingin ku mengajak Vera untuk bercinta, aku butuh belaian wanita. Kali ini aku benar – benar tak bisa menahan rindu ku pada Andini. Tapi apa iya aku harus mengajak wanita lesbi itu bercinta?, aku tak yakin betul walau badan nya yang sintal itu sempat membuat aku tak tahan dan melepas birahi dengan cara yang tidak suci bagi ku.
Mata ku menyala – nyala, seperti lampu jalan yang bersinar terang. Aku melihat, gadis cantik muda yang satu kost dengan ku. namanya Lisa, dia masih 3 SMA. Aku sering melihat dia di Bar Biru. Dia itu gadis yang merantau, asli nya dari Manado. Orangtua nya bekerja di sana. Hanya sempat sesekali aku lihat, ayah nya mengunjunginya. Tapi aku tak yakin betul itu ayah nya. karena secara tak wajar lelaki itu mencium bibir Lisa, dan menggenggam bokong Lisa dengan keras. Tak sewajar nya seorang ayah melakukan itu. Lisa sangat cantik, tubuh nya seperti tidak seperti anak SMA yang mungil – mungil. Tubuh nya sintal, lebih sintal sedikit dari Vera. Bokong nya besar, naik turun – kanan kiri ketika berjalan. Pinggul nya membuat mulut ku ternganga, apalagi ketika Lisa mencuci baju di halaman belakang. Lisa sekarang jadi objek pemandangan pemuas birahi ku. ingin sekali aku berbicara dengannya, namun sepertinya dia sangat sibuk belajar mungkin ada ujian. Tapi aku mencium sebuah kesempatan untuk terus bisa melihat tubuh nya, aku bisa mengajarkan pelajaran apa pun itu. Waktu SMA aku cukup pintar dengan rangking 7 dari belakang.
Hari itu, kamar Lisa terbuka. Dia sedang belajar dengan lampu belajar nya. mengenakan pakaian putih yang membuat bra hitam itu menembus dan mengecapkan dada yang besar tangan ku saja tak cukup meremas satu dari buah dada nya. aku mendatangi nya, dan tersenyum pada nya.
“Kenapa mas Agus?” ,tanya nya dengan suara yang imut.
“Tidak, tidak apa. Belajar apa kamu?” ,jawab ku.
“Ini mas fisika, agak susah.” ,Lisa menjawab sambil tersenyum dan tertawa kecil
“Coba aku lihat, siapa tau aku bisa ajarin kamu..” ,jawab ku sambil melangkah masuk ke kamar nya.
“Oh, rangkaian seri dan pararel?, ngerti nih aku. “Bagaimana kuat arus dalam rangkaian bercabang” ,ya kan? Hukum Kirchhoff 1.” ,jawab ku dengan percaya diri.
“Iya, mas Agus bisa?” ,dia menjawab sambil memandang ku.
“Bisa..”
Dengan bermodalkan buku dan sedikit ingatan ku, aku mengajari nya sambil memandangi buah dada nya yang terus juga menatap ku. seakan buah dada itu berbicara pada ku, untuk menempelkan tangan ku di atas nya, dan berkuasa atas tegangan kuat arus yang sedang di pelajari. Aku dan Lisa menelan malam yang panjang, sampai Lisa mengantuk dan merebahkan diri tengkurap sambil memegang buku. Aku pun duduk bersila di depan nya. aku terus memandangi kulit nya yang putih itu. Dan aku yakin Lisa menyadari itu. Diteguk malam yang tanpa bintang, Lisa menyuruh aku menutup pintu. Aku meng-iyakan dan menuruti nya. lalu Lisa beridiri dan mengunci nya. dia membuka baju putih yang agak kebesaran itu, membuat aku sekarang bisa menatap buah dada nya yang besar, tanpa melihat pucuk nya.
“Sang burung elang sekarang sedang mengiang – ngiang, rintihan betina itu membuat sang burung jantan elang terbang di antara dua gunung itu. Memutar pucuk nya kanan kiri, berlayar kesana – kemari. Rintih menyayat telinga, ketika sang betina megah mengepakan sayap putih nya. melepaskan air – air dari pori – pori kulit, yang berjatuhan saat mereka bersentuhan. Mengeras, menahan rintihan dari bibir itu dengan membalas lidah yang menjulur itu. Sang elang sekarang berkuasa menindih di atas nya.”
Tak sadarkan diri sekarang aku telah membelai pipi nya, rambut nya yang harum beraroma ku cium dengan mesra. Di atas bibir ku yang kelu tak terkatup, kami saling memagut. Perlahan menjulur ke telinga, lalu sampai ke dada. Tangan saya berada tepat di kedua dada nya, dan meremas nya. Lisa tanpa perlawanan, hanya memejam saat ku bermain di atas pelabuhan lengan – lengannya. Sampai akhirnya ku lucuti celana hitam itu, dan tinggal hitam yang ‘rewo’ itu yang terlihat. Sungguh mempesona. Kami mempererat pelukan, saat aku menindih keras adinda nya. dan mulut nya menampung hujan dari sang Jaka. Aku belum lelah, namun sang Jaka tak mampu lagi melepaskan gairah.
“Lis..”,panggil ku.
“Iya mas?”
“Jangan sampai orang lain tahu..”
“Asal mas besok mau lagi main sama aku..”
“Kalau tidak ada yang tahu, pasti aku selalu main sama kamu.”
“Iya mas, aku senang belajar hari ini..”
“Besok belajar di kamar ku ya..” ,ajak ku.
“Di toilet besok nya lagi yaah..” ,desah nya mengajak ku untuk bermain lagi esok.
“Pasti.”
Aku pun kembali kenakan pakaian ku, lelaki yang kesepian ini harus kembali ke kamar. Saat ku berjalan ke kamar, aku tersenyum puas. Pelajaran hari ini soal kuat arus bercabang. Kuat arus bercinta, dalam cinta satu cabang, namun bercinta dalam dua cabang. Arus masuk dengan arus keluar sama puas nya.
“HAHAHAHAHA…” , aku tertawa sambil memikirkan perkataan ku yang tidak jelas tadi.
Pada suatu siang yang sangat panas, aku terbangun dari tidur. Aku membuka pintu dan melihat ada sepucuk surat di atas keset. Aku membukanya, ternyata dari Lisa.
“Mas aku di toilet…” –tulis nya.
Lalu aku berjalan ke toilet. Sesampai nya di toilet, Lisa yang mengenakan seragam sekolah penuh nafsu. Dia menggenggam ‘anu’ ku. lalu aku dan dia bercumbu. Entah apa arti kesetiaan yang telah kubuat dengan Andini ini menjadi tak berarti. Ketika nafsu sudah di penghujung ubun – ubun. Ku luapkan nafsu siang hari yang panas ini. Kami bertukar imajinasi dari keringat yang menempel diantara tubuh kami. Masih mengenakan pakaiannya, celana dalam nya berwarna merah jambu ku raih dan ku turunkan. Lalu ku berikan segenap Jaka yang masih baru terbangun. Tak ada yang tahu, kami bercumbu. Telah dua kali sudah kami lakukan. Perasaan gundah tentang kesetiaan kulupakan sejenak demi bercinta dengan Lisa. Sekarang tubuh kami penuh dengan bau kecut. Terus saja terbayang oleh ku, pertemuan yang indah dengan perselingkuhan tanpa ikatan perasaan. Sangat kuat sebatas bercinta di atas kasur maupun bak mandi toilet Bu Rahma. Sang cairan ingin keluar, aku mencoba keluarkan Jaka keluar dari peperangan. Kata Lisa pada ku :
“Keluarkan saja di dalam!”
Dan cairan Jaka pun keluar di dalam, kami mendesah puas. Permainan yang singakat ini, membuat si Jaka lemas sekali.
“Kamu gak sekolah Lis?” ,tanya ku pada nya.
“Tidak, aku rindu mas Agus.”
“Rindu mas Agus, atau ‘anu’ nya mas nih?..” ,tanya ku canda.
“HAAHAHAHAHA…” ,dan kami tertawa sambil kembali lagi berkecupan bibir disana.
Dan lama nya waktu berganti, siang berganti malam. Aku dan Lisa telah lakukan itu berkali – kali. Tapi tak pernah kurasakan ini menjadi suatu ikatan. Hanya sekedar bercinta di atas kasur maupun bak mandi toilet Bu Rahma. Aku berharap tak satu pun orang curiga, Vera atau siapa pun yang tinggal di kost Bu Rahma. Cahaya lampu neon putih bersinar redup – redup. Aku dan Lisa sedang bercinta ketika malam di kost Bu Rahma sepi tak bersuara. Lisa, wanita SMA yang tidak kuajarkan cinta, namun aku diajarkannya untuk terus bercinta. Hampir tiba saat nya Andini pulang kembali, kami berdua mulai menjaga jarak. Karena aku telah jelaskan ini sebatas bercinta, aku takut Lisa mempunyai ikatan lebih kepada ku. karena ketika itu semua terjadi, aku yang bajingan ini bisa saja ketahuan oleh Andini. Aku sekarang telah tahu, perselingkuhan dengan Lisa itu indah, sebatas bercinta saja.
Setelah itu aku dan Lisa menjaga jarak, kami melakukan acting pura – pura tak pernah kenal, dan Lisa bisa. Andini pun datang, dia mengajak bercinta namun entah mengapa aku enggan bercinta. Kemaluan ku agak sedikit gatal, gatal karena terlalu lama bercinta dengan Lisa. Aku dan Andini yang sudah pulang dari Jepang pergi ke dokter kelamin. Aku memeriksa nya, aku takut Andini akan tahu tentang hubungan ku dengan Lisa. Tapi aku tak menduga bahwa Lisa yang menyebarkan penyakit ini. Entah mengapa aku takut semua ini terjadi, semua jadi kacau. Aku terkena penyakit kelamin, dan sejak saat itu memeriksakannya aku sudah tak pernah lagi bercinta. Sang Jaka tidak apa, hanya sedikit bintik – bintik yang kata dokter menular. Aku takut Andini nanti enggan menikah dengan ku, karena aku membawa penyakit ini bersama ku.
“Kamu selingkuh ya Gus?”,tanya Andini pada ku.
“Gak..”,balas aku.
“Kok kamu kena penyakit ini?”
“Aku juga tidak tahu..”,jawab aku melawan.
“Jujur sama aku, kamu selingkuh kan?” ,Andini bertanya sambil terisak – isak di halaman rumah sakit.
“Benar Din, aku gak.”
“Semakin kamu jawab tidak, aku jadi semakin tahu bahwa jawabannya iya”
Aku pun hanya diam, “Andai saja perselingkuhan itu tidak terjadi, aku tak mungkin sakit kelamin.” Bukan!. “Andai saja alat kelaminnya tidak berpenyakit, aku pasti akan melanjutkan perselingkuhan yang indah itu…” pikir ku dalam batin yang menggundah.
7. Sepasang Elang di Bawah Gigil Hujan
Seberkas bayangan membias di langit, jemu hujan deras menggigil kan lantai bumi. Meneduh dalam kafe yang sudah tak asing lagi. Dimana penari telanjang, menari ditemani lampu disko yang bersinar nyala redup dalam elegi kami. Mendung hanya isak tangis sang langit, kami berdua bertatapan tanpa berbicara lagi. Entah bagaimana bicara pada nya Andini, yang sudah tak percaya lagi. Seperti mengajak batu besar mengobrol di malam hari. Mengayuh ingin menebus dosa, dari sebuah janji setia yang sudah ternoda. Andini aku ingin kamu terima, saat itu aku sedang gelap mata dan tergoda. Aku selalu rindu menjemput bayangmu di bawah bulan, ketika aku dan kamu bercumbu di atas dunia. Gemercik gerimis yang terdengar, hanya rangkaian kata dalam kalimat yang terpendam di bibir yang tak berani menegas. Mau kah kau, di jemput elang yang berdosa? Aku takut kau menolak maka aku tak bergerak. Andini, aku tahu dari mata mu yang cinta pada ku. tapi aku tak tahu hasil nya nanti jika aku jujur pada mu.
“Di..i..i..n..n” ,sapa ku pelan.
Dia mengacuhkan pandangannya, memandang pada penari yang sedang telanjang menghibur pria – pria.
“D..i…i…n..n..n”,sapa ku pelan.
“Apa?”
“I Love You”
Dia mengacuh kan ku lagi tanpa senyum, trauma yang ia terima lebih besar dari dosa yang ku tanggung. Sebuah penyakit ini tak seberapa, dari merendahkan sebuah janji setia pada nya.
“D..i…i…i…n..n”,sapa ku lagi.
“I Love You..”
Andini tidak menjawab, sunyi meniti gerimis yang jatuh di lantai bumi. Ku tahu kamu minta aku tuh bersaksi, bahwa telah menodai janji suci sebuah kesetiaan kami. Cinta tak lagi besar, cinta sekarang menjadi penghalang. Pasti dia berpikir mengapa harus jatuh cinta pada lelaki bajingan seperti ku. mungkin dia sedang berpikir bagaimana cara untuk memutuskan hubungan aku dengannya.
“Kenapa kamu selingkuh?”
“Karena aku rindu..”
“Rindu apa?”
“Rindu pada mu, tapi kamu tidak ada. Jadi aku lepaskan rindu ku pada-nya.”
“Siapa dia?!”
“L….ii..s..a..a..a”
“Bajingan!, anak kecil aja di perkosa.”
“Bukan di perkosa, kami bercinta”
“Praaak!” ,tampar nya pedas di pipi kanan ku.
Aku patut menerimanya, sangat patut menerima tamparan yang membuka mata ku itu.
“Lebih baik memperkosa dari bercinta!”
“Jika aku memperkosa kamu sekarang?”
“Aku bunuh kamu!”
“Aku Cinta Kamu..”
“Setan!..”
“Kenapa kamu bilang bercinta lebih buruk dari memperkosa?”
“Karena kamu berselingkuh. Berselingkuh dengan bercinta itu hina! Bajingan!”
“Kalau aku memperkosa nya? berarti aku tidak bercinta?”
“Ngewe lo!,…”
“PRAAAK!....”,tamparnya lagi. Sekarang terasa begitu panas, sampai membuat ku sangat ingin bercinta.
“Kamu tidak selingkuh di sana?” ,tanya ku pada Andini.
“Tidak!”
“Bagaimana aku tahu tidak?”
“Karena jelas tidak, tidak mungkin aku begitu. Aku cinta kamu.”
“HAHAHAHA” , tertawa lah aku dengan lantang.
“Jelas sekarang, kamu mencintai aku. Aku juga Cinta Kamu Din..”,teriak ku pada Andini.
“Itu dulu..apa sih kamu..”
“Lalu? Sekarang?”
“Hampir hilang..”
“Lihat penari telanjang itu? Yang disana yang menonton itu kekasih nya. dan pasangan wanita nya sedang menari telanjang ditonton ratusan pria.”,sambil menunjuk kea rah panggung.
“Lalu apa? Gak ada hubungannya sama sekali.”
“Pacar nya saja bisa terima apa adanya, wanita nya sedang menari di tonton ratusan mata pria. Kalau aku pacar nya pasti aku pukul orang – orang itu.., tapi kalau wanita itu senang di tonton ratusan pria, aku bisa terima apa adanya.”
“Bodoh.”
“Kenapa bodoh? Cinta emang kadang bodoh. Makanya ada kata ‘cinta buta’. Kalau udah cinta bisa jadi buta, bisa jadi bodoh.”
“Tolol”
“Apa kamu tidak merasa tolol? Sekarang kamu masih disini bersama ku, yang jelas – jelas sudah mengkhianati janji setia kita. Kamu Cinta aku, dan cinta kamu udah buta.”
“Berisik” ,sambil tersenyum malu Andini berkata pada ku begitu.
“Ingat Din, Cinta itu udah tidak bicara dosa, cinta itu udah gak bicara tentang satu individu memaksa individu lain jadi sesuatu yang dia mau. Cinta itu gak seperti kertas yang kalau udah tidak berguna langsung dibuang. Cinta itu mau udah rusak, tetap ada, tetap apa adanya.”
“Aku CINTA KAMU!”, teriak Andini pada ku.
“Aku tidak!”, balas ku.
“YAUDAH!”
“Tapi aku SANGAT MENCINTAI MU!”
“I LOVE YOU”
“Besok kita nikah ya! Susul Wiwik dan Edi.” , ajak Andini.
“Yakin?”
“Kamu tidak yakin?” ,tanya Andini.
“Tidak..”
Sepasang burung elang birahi kesumat, wujud dari kecupan bibir yang sangat khidmat. Sebelum ludah – ludah itu menetes di antara lingkar bibir yang memerah dan membasah, pucuk pistol yang meluap. Elang nya merasa nikmat. Denyut jantung Arjuna dan Srikandi berdetak keras. Elang yang berdusta, tetap masih sangat mencinta. Sepasang burung elang, menghapus sisa dusta yang muram, mempertemukan mereka di antara bilik – bilik gerimis yang menetes di luar jendela. Kami bertukar cinta, dari lidah menuju ludah, telinga jadi indera peraba, peraba cinta, peraba birahi yang khidmat. Dengan leluasa sang elang mendaki tubuh nya, dengan gelinjang dan desah. Tak sekedar bercinta seperti Lisa yang kelaminnya berdosa. Cinta kami lebih kuat dari arus listrik yang bercabang dari teori Kirchhoff. Cinta kami lebih kuat dari kuasa Tuhan. Tak peduli berpenyakit kelamin atau tidak, tak peduli seberapa dusta yang diperbuat. Cinta kami liar tak beraturan, saling yakin walau tanpa hukum dan aturan. Sepasang elang di bawah gigil hujan, saling berkecupan di antara para penari telanjang.
Dan ketika kami sepakat untuk menikah besok, kulihat asap – asap merah terbakar membara, orang – orang ramai berdatangan, kukira akan datang melihat pertunjukan. Mereka mengenakan sarung dan peci putih dengan muka yang hitam kelam. Berteriak seketika, “MATILAH KAU MAHKLUK HARAM!!”. Menyedihkan sudah, orang – orang berlarian telanjang. Kami semua diserang. Ahmad disana dengan teman – teman nya. menyerang kami dengan tongkat dan obor api. Dengan botol – botol bensin yang di bakar dan di lemparkan. Penari – penari telanjang mati, yang pria – pria sedikit melawan dan melarikan diri. Kursi tempat Bunga mati terbakar. Ahmad dan teman – temannya marah kepada kami. Mereka memang tak ada cinta, menciptakan ketidaksetaraan di dunia.
“Selamat siang ibukota, kami lah sepasang elang di bawah gigil hujan. Yang selamat dari penyerangan malam perang. Nyanyian abad ini penuh angkuh, penuh cinta kami yang angkuh. Selamat siang ibu kota! Kami minta tunjukan cinta mu! Berikan kami tempat untuk bercinta sekali lagi.”
Pernikahan kami indah, tlah lama kami tidak bercinta. Setelah Andini sangat takut dengan pistol ku yang berkabut nista. Namun Andini percaya cinta, bahwa sakit itu tak seberapa namun cinta kami yang lebih dari semua yang ada. Andini dan Aku adalah sepasang elang dari malam gigil hujan. Dengan cinta mustahil tak lagi misteri, hanya satu kunci yang bersembunyi.
21 Februari 2011 (Jogjakarta)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar