Sabtu, 05 Februari 2011

Di Bawah Kanvas Ibu


Di bawah sinar merkuri yang terang merah tua, senja hampir datang menelan semua nya menjadi bertabur bintang – bintang dan hanya terang lampu – lampu kota dan mobill – mobil yang memenuhi jalan raya yang memantulkan cahaya nya, ke dinding – dinding pencakar langit, kepada genangan – genangan air. Rumah itu sudah lama di tinggal induk nya, seorang arsitek yang merancang rumah itu sampai sekarang berdebu, sepi seperti dulu suasana mencekam seperti kuburan yang tidak berpenghuni. Namun entah kenapa, rumah itu membawa perasaan nyaman, kadang pula saya banggakan. Hari ini, aku membersihkan seribu debu yang menempel pada dinding – dinding langit rumah itu, genting – genting sudah rapuh dan banyak sekali sarang laba – laba senang mengitari nya. milisi kecoa pun sedang tertawa riang, berebutan kencing sisa yang menempel beberapa tahun lalu. Sekarang rumah itu bersih, tertempel puluhan hampir ratusan lukisan yang akan kupamerkan kepada orang – orang yang akan kuharapkan untuk berdatangan. Selembaran – selembaran pameran telah kusebarkan dari ujung utara kota sampai ujung selatan kota, dari status social terendah, sampai orang – orang berjabatan tinggi di kota. Pak lurah juga ku undang, tak lupa bu lurah, juga warga sekampung. Sampai hampir satu jam aku menunggu, belum satu pun juga yang datang menginjakan alas kaki nya di rumah ini, mungkin kurang terang yah? Atau kurang meriah karena tak ada bagi – bagi makanan gratis? Sampai akhirnya aku tertidur dan teringat dia. Biasa nya di ruangan ini, dia tertegun melihat lukisan – lukisan nya yang menggantung tak tertata di tembok – tembok dan langit – langit. Kadang dia tertawa sendiri saat menemukan inspirasi dan langsung memulai untuk melukis sambil tersenyum riang, bahagia aku ketika melihat wajah nya yang berseri – seri. Kadang juga dia melukis sambil meneteskan air mata, dan aku bisa merasakan sakit nya berdenyit di jantung ku. sering sekali dia tertidur saat melukis, dan kuberi dia selimut tebal untuk menghangatkan tubuh nya di depan kanvas. Saat pagi, dia sudah terbentang terlentang dan sangat tenang seperti sangat lelah seharian begadang dan kening nya berkerut karena terlalu jenuh atau penuh dengan inspirasi yang akan terbunuh. Jarang sekali dia berbicara pada ku, mungkin hanya sesekali tersenyum padaku atau kadang hanya tertawa saat melihat ku dan kembali melukis. Hari – hari nya di habiskan di atas kanvas, tanpa pernah melakukan satu pun pameran karena dia hanya senang menikmati lukisannya itu sendiri. “mbak Sri, mbak Sri..” , panggil seseorang pengunjung yang tak lain tak salah lagi adalah tetangga sebelah ku. kemudian aku terbangun dari tidur ku, kembali meminjam nyawa ku yang tertidur untuk memulai presentasi. Namun pengunjung belum lebih dari 10, maka aku mengurungkan niat ku dan hanya melakukan sesi tanya jawa pada tetangga ku. “mbak Sri, yang itu lukisan nya bagus.. apa artinya?” , tanya dia padaku. Dia menunjuk kea rah lukisan seorang wanita hamil muda, berkuncir dua, berlatar belakang warna hitam kecoklatan, di samping nya ada kursi tua, dan ibu itu sedang memakan sebuah apel yang sudah tergigit. “setiap karya mempunyai arti bagi siapapun juga, yang itu melambangkan cinta yang gembira saat mengandung seorang anak. Muka wanita itu tersenyum namun mata nya penuh tanya, apakah anak nya laki – laki atau perempuan? Dan kursi itu berarti menopang, kursi itu tempat orang untuk bersinggah, beristirahat, saat keadaan pikiran mu bingung setengah mati. Apel yang dipegang menandakan bahwa si ibu sangat peduli dengan kesehatan anaknya, aku cinta gambar ini, ini gambar yang bagus.. Boleh di lihat – lihat yang lain bu..” , jawab ku padanya. Lalu beberapa waktu berlangsung, pengunjung mulai berdatangan, mereka mengerutkan dahi nya sambil menerka – nerka mencoba untuk mengapresiasi sang induk rumah. Malam tersaput kabut, kabut yang menghipnotis setiap jiwa dan tiba – tiba saja seperti sihir pengunjung semakin banyak dan aku semakin bersemangat untuk mempresentasi kan nya. “Hadirin sekalian, terima kasih telah datang ke pameran ini. Saya sangat menghargai kedatangan kalian dalam kesederhanaan ini kita berkumpul bersama untuk mengapresiasikan hasil karya dari seorang wanita yang begitu saya cintai. Dan pameran ini berjudul “ Aku, Ibu, dan Kanvas mu”. Ini cerita tentang ibu ku, seorang wanita yang mengandung ku tanpa seorang suami atau ayah atas aku. Ibu ku, adalah kelinci manis, dia bersama fantasi nya pertama kali menginjak kanvas yang ada di bulan. Di lindap pepohonan dia berkata padaku, “suatu hari kamu akan tahu kenapa kamu harus ada di sini..”. dahulu kala saat kecil, aku sering menemani nya melukis di taman rumah kami yang luas, di bawah pepohonan rindang yang di sana terdapat burung – burung pipit kecil pagi hari. Setiap ku ajak bicara, ibu hanya diam tak pernah berkata apapun padaku. Aku tak pernah tau, siapa dia sebenarnya hanya kami memang sering bercanda dengan gelitik – gelitik di kaki atau leher ataupun pinggang sampai berguling – guling di rerumputan. Ibu ku tak pernah berbicara dengan siapa pun kecuali aku dan kanvas nya, dengan hati dia bisa menyampaikan isi fantasi nya pada ku dan aku yakin hanya aku yang mengerti dia. Mungkin orang – orang tidak suka padanya, yang kurang bisa bersosialisasi dengan tetangga. Tapi aku tak pernah peduli untuk itu, aku akan tetap mencintai nya sampai kapan pun. Suatu hari saat dia melukis, dia menangis, menangis begitu kencang sampai burung – burung yang hinggap di jendela rumah pergi mengepakan sayap karena jeritannya. Aku tak mengerti apa yang ditangisi, tapi aku bisa mengerti apa yang dilukiskan di kanvas adalah isi hati nya. saat itu dia melukis seorang laki – laki muda yang sedang tertawa dan mulut nya sangat lebar. Tangannya mencengkram wanita bertubuh mungil tak berpakaian, ada darah dari adinda wanita itu, dan di belakangnya terdapat lorong yang dalam yang tak ada pencahayaan sedikit pun, setitik pun tidak. Saat itu aku mengerti mengapa ia menagisi lukisannya, semua itu dikarenakan ayah ku atau tak sepatutnya kusebut dia ayah, karena ku anggap semua ayah itu sama saja, sama seperti dia. Dia memperkosa ibu ku, dia adalah lelaki muda di desa. Mungkin dahulu dia menganggumi ibu ku, namun ibu ku terkaku cantik untuk nya dan lelaki itu memaksakan kehendaknya untuk memperkosa ibu ku. lalu lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan luka, masuk kedalam lorong yang begitu dalam sampai kita tak akan bisa temukan lelaki itu. Sejak itu aku yakin, pasti ibu begitu sangat tertekan jiwa nya, hari itu kutahu dukacita tiba – tiba merasuk menjadi pakaian yang dikenakan di dalam kisah hidupnya. Aku jadi ingat sebuah kejadian yang sangat menggembirakan, ibu ku melukis mengenakan gaun merah muda terbaik yang dia punya, dia melukis diri nya sendiri dengan mata tertutup. Wanita itu yang ada dalam lukisan adalah ibu ku, dia dengan gaun merah muda nya mengitari kota dengan sedih menggunakan sepeda. Sepeda itu membawa nya sampai pada rumah ini, dan seketika rumah ini menjadi pengobat hati nya. hari itu, Ibu mengapus paras duka itu menjadi sukacita. Wanita itu, Ibu ku tersenyum saat mendapatkan rumah kosong tak berpenghuni itu. Senja telah menyerahkannya pada sebuiah harapan baru, ucapkan selamat tinggal pada masa lalu yang kelam. Pengunjung yang datang seketika tersihir dengan apa yang ku berikan pada mereka, ada air mata yang kuyup yang terjatuh seperti embun dari langit, ada yang bertepik tangan seperti memanggil kawanan burung dara agar datang ikut menikmati kisah yang menyenangkan ini. Ibu ku mengajari ku banyak hal lewat lukisan nya, dan aku semakin mengerti aku tercipta disini untuk apa. Seperti nya sekarang saat nya pengunjung yang menonton aku seperti panggung teater, melihat sendiri dan menafsirkan sendiri hasil karya Ibu ku aku hendak keluar mencari angin. Aku ingin melihat datang nya malam yang lebih malam di antara daun – daun. “Hadirin sekalian, silahkan menikmati.. maaf saya hendak keluar sebentar, ingin mencari angin..” kata ku pada semua pengunjung. Tampak cahaya yang membias dan membayang di udara, melayang – layang, sangat terang. Itu adalah bintang, bintang pada malam hari yang menerangi malam ini. Pagi hari, aku terbangun mendapatkan tubuhku telanjang di ranjang, dinda berdarah tanda pagar tak rapat lagi. Aku masih lemas dan ternyenyak di ranjang, bermimpi berpelukan dengan bintang – bintang yang tak mungkin datang karena matahari sudah terang. Ku lihat burung – burung terbang mencari arah, ku lihat sayap – sayap nya merendah harap untuk bersinggah, ku tebak burung itu sedang membuang mimpi – mimpi yang telah hancur dalam bentuk kotoran yang terjatuh ke tanah dan berubah menjadi pohon yang rimbun dan subur. Ibu.. sudah seminggu ini aku merindukan mu setelah kau pergi meninggalkan darah di urat – urat jemari. Kanvas yang merah itu, aku sudah tahu. Kau jadikan darah sebagai pewarna lukisan mu. Ibu, ini cerita tentang diri mu.. tentang aku, ibu, dan kanvas mu.

28 januari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar