Malam hari aku terbangun dari tidur ku pukul 01.00 pagi sekarang, dan suara pintu yang terbuka itu membangunkan ku. Krieet.. Krieet.. angin berhembus bertebaran perlahan membuka pintu kamar ku. badan ku terasa sangat lemas sampai aku malas untuk beranjak dari ranjang dan menutup pintu itu. Kekuasaan waktu menelan umur ku perlahan, setiap hari pulang jam segini, bekerja untuk membayar uang kontrak rumah susun yang tua ini, yang berisikan dengan bermacam – macam orang dari berbagai daerah, darah, dan status ini. Lelah sekali aku hari ini, untung sekarang aku sedang libur kerja cuti sehari saja karena kemarin aku muntah – muntah seperti nya masuk sih masuk angin. Aku tinggal sendiri disini, aku tidak bersuami, dan tak mau bersuami. Di sebelah kamar ku tinggal seorang tentara perang dan seorang istri nya yang sangat sopan jika sempat pagi – pagi bertemu dengan nya sedang mencuci. Tak tahu betul aku, apa mereka sepasang suami istri kabar – kabar dari tetangga mereka kawin sirih aku tak peduli mau kawin sirih kek, kawin apa kek, yang penting dia sopan tidak rese dan tidak mengganggu ya aku senang – senang saja. Tapi sempat ku melihat, si tentara itu datang ke tempat kerja ku. tempat dimana tidak seharus nya seorang yang sudah beristri datang untuk melihat – lihat puluhan wanita muda dan tua dipekerjakan, diperdandankan, dengan lipstick, bedak, pakaian yang minim – minim, dan berlagak centil di depan pelanggan. Tempat dimana gadis – gadis dan wanita ini siap untuk dijadikan istri simpanan, istri tabungan, atau selingkuhan, atau pacaran, atau bisa juga jadi bahan pelampiasan. Waktu itu aku sedang duduk menunggu pria yang mau membayar ku, duduk di sofa sambil menyulut sebatang rokok dan bolak – balik melihat jam dinding karena tak kunjung juga datang seorang pria yang mau mengajakku berkencan. Pukul 02.00 pagi, dia datang bertanya pada ‘mami’ apakah ada si Dewi. Dewi itu adalah teman ku, sebenarnya aku tak begitu dekat, tapi semenjak dia tahu tentara itu satu rumah susun dengan ku dia jadi dekat dan ingin banyak tahu. Dewi berumur 19 tahun, gadis cantik, kulit nya halus, pipi nya berisi dan terlihat sangat muda dan lucu. Biasa nya rambut nya dikuncir, lurus panjang sampai punggung dan parfum nya beraroma mawar. Postur nya tidak terlalu tinggi, tapi bokong nya sangat menggairahkan. Segera aku mendapatkan jawaban, bahwa si Joko tentara itu menjadikan Dewi istri muda nya, simpanan mungkin. Tapi aku tak yakin tahu betul, hanya jawaban sekilas bayang saja. Dewi itu berasal dari Indramayu, dan setelah kami menjadi teman yang lumayan dekat dia sering bercerita tentang Joko, lelaki yang sudah berkepala tiga. Katanya, suatu saat Joko akan melamar nya karena Joko begitu mencintainya tapi aku tak yakin, karena teganya jika Joko menceraikan istri nya di rumah yang sopan itu, demi seorang wanita penggoda. Di tengah angin yang bertiup menghantarkan dingin yang bermega – mega, Klontang! Suara perkakas rumah tangga dan peralatan dapur jatuh, Prank! Piring pecah, dan sendok – sendok berjatuhan. Di senja yang kelam ini, pertengkaran rumah tangga terjadi lagi, bosan dengar suasana rumah susun yang selalu begini. Aku tahu itu dari kamar si tentara itu, aku berusaha menguping tanpa berniat ingin cari tahu atau apa – apa, tapi aku hanya ingin tahu apa yang di permasalahkan di larut nya senja ini, di depan angin yang kencang dan dingin ini, di ungu nya langit yang menelan bulan dan siap melemparkan matahari menjadi saksi pertengkaran itu. Mereka seperti kucing kelaparan yang mengobrak – abrik seisi dapur, sangat gaduh, mengeong – ngeong mengusik kuping ku. selarut ini bertengkar, apa tak ada hari esok untuk bertengkar? Mengganggu saja. Aku mencoba mencari kesimpulan pertengkaran ini, mungkin saja Joko memberi tahu bahwa ingin menikahi Dewi sebagai istri muda, atau hubungan mereka yang diam – diam mengendap seperti musang ini ketahuan oleh istri nya, atau karena gaji Joko kurang besar untuk mencukupi kehidupan mereka. Aku hanya asal saja,tapi kemungkinan klise nya seperti itu. Tapi Dewi pernah bercerita padaku bahwa suatu saat Joko akan melamar dia menjadi istri nya, jadi itu jawabannya. Pasti itu akar masalah mengapa mereka bertengkar selarut ini, tapi mengapa harus selarut ini? Mengganggu saja. Selarut ini bosan aku jika harus mendengar pertengkaran mereka, sebaiknya aku mencari angin keluar atau mencari makan saja. Lumayan lah untuk merasa muda kembali setelah waktu perlahan melenyapkan umur ku. lalu aku memberi pesan singkat dari ponsel kepada Dewi untuk kuajak mengobrol, “Wi, dimana kamu? Aku pengen ketemu nich..” kata ku. suara pertengkaran itu semakin keras, botol – botol pecah, Dug! Dug! Dug! Ada yang memukuli tembok, menggores – gores seperti kucing kelaparan, dan lama – lama menjadi tangis yang merintih – rintih. “Mass.. jangan pergi mas.. kenapa kamu sakitin aku? Mass.. jangan pergi mass..” suara rintih istri Joko yang terdengar tersedu – sedu sesekali mengusap ingus yang keluar dari hidung. Lalu aku beranjak dari ranjang ku yang reot menuju meja rias sambil mengenakan celana jeans ku lalu bersolek, memakai lipstick, bedak, parfum, dll yang harga nya lebih mahal dari makan ku 2 hari. Aku benci ketika bersolek di depan kaca rias, dan mungkin kaca rias itu juga sudah gerah melihat ku bertahun – tahun memantulkan kesoksucian ku di balik kosmetik – kosmetik ini. Saat selesai bersolek dan ingin beranjak keluar, aku mendengar suara pintu yang terbuka dengan kencang dan tertutup kembali. Aku lihat Joko berjalan lalu lenyap seperti bayang – bayang melewati depan kamar ku. aku pun berjalan mengulurkan kepala ku mengintip entah mau kemana Joko pergi selarut ini, mungkin menjemput Dewi. Dug! Dug! Pintu kamar Joko terdengar digebuk – gebuk oleh sang istri, tangis nya terdengar kencang sekali.. Masss Masss,.. sungguh kasihan istri nya sudah mandul, ditinggal suami pula. Lalu aku bergegas menutup pintu kamar dan mengunci nya, lalu berjalan keluar rumah. Suasana rumah susun selalu begini, di senja yang berembun dan dingin ini, sepasang kekasih masih bemesraan di tangga, anak – anak muda main gitar makan kacang sambil minum anggur, yang tua – tua sedang bicara ekonomi dan politik sambil minum kopi atau berjudi. Saat ku sampai pada lantai terbawah, dan keluar dari pintu itu Brukkk..!! dan sekejap istri si Joko sudah mendahului ku beberapa detik sampai di lantai terbawah, dengan kepala yang pecah dan berlumuran tangis darah, tulang – tulang yang mungkin remuk, tergeletak bisu di bawah langit yang ungu tanpa bulan sebagai saksi nya. Tolong..!! teriak ku histeris saat melihat istri Joko mati mengenaskan, lalu warga beramai – ramai mencari pertolongan. Ada yang menelpon ambulans, menelpon polisi, foto – foto, merekam nya, menelpon saudara dari istri Joko, dan aku mencoba menelpon Dewi untuk menanyakan apa Joko bersama nya. Tapi tak satu pun telpon ku yang di jawab, dan aku masih trauma dengan kejadian senja ini. Aku kembali berlari ke kamar ku, memakai selimut ku, menutupi wajah ku dengan bantal tidur ku, mencoba memaksakan tidur ku, dan aku sulit sekali untuk tertidur ketakutan ini terus menghantui. Dug! Dug! Dug!....
Aku terbangun sekarang pukul 10.00 pagi, kukira aku sedang bermimpi dan ternyata ini nyata. Ada sepucuk surat di tangan ku, yang bertuliskan tentang semua rahasia yang terpendam selama ini. Surat ini berasal dari Joko, lelaki yang meninggalkan istri nya kemarin.
“Rin, maaf kan aku jika mengganggu kemarin, aku ingin kamu tahu agar tak selalu kamu ingin tahu sampai kamu me-reka – reka semua nya, aku tak mau trauma ini menjadi sesuatu yang menurunkan gairah hidup mu. Aku Joko, laki – laki busuk yang merasa bersalah atas hidup ku. dulu aku punya seorang istri, saat ku bertugas untuk berperang aku meninggalkan istri ku yang hamil di Indramayu. Istri ku meninggal saat melahirkan anakku, dan aku merasa telah membunuh istri ku dan membunuh masa depan anakku. Dia wanita itu yang lompat dari lantai 6, bukan istri ku, dia hanya simpanan ku, wanita mandul yang mencintai ku sepenuh hati. Lalu Dewi adalah anakku, aku mencintai nya. jangan beritahu siapa – siapa bahwa aku adalah ayah nya, aku tak mau dia tahu bahwa aku menelantarkannya. Aku mencintai nya, aku mau dia jadi istri ku bukan anakku. Maaf kan aku jika mengusik istirahat mu kemarin.”
Joko.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar